Palas

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Balai Pustaka, 2005, mencantumkan: kro.nik n catatan peristiwa menurut urutan waktu kejadiannya; susunan waktu; yang berhubungan dengan waktu. Sedang Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI), Balai Pustaka, 2006, menjelaskan: kronik E cerita yang meriwayatkan suatu peristiwa tersusun menurut waktu terjadinya.

Foto-Foto: Internet

Jumat, 05 Juli 2013

Robohnya Beringin Mereka


TANYAKAN ke 100 politikus dan aktivis atau 500 orang awam di Mongondow, kenalkah mereka pada Julius Henry ‘’Groucho’’ Marx? Saya berani bertaruh hampir 100 persen politikus dan aktivis itu cuma mampu bersigegas mengais-ngais ingatan dan mengaitkan nama ini dengan Karl Heindrich Marx, filosof, ekonom, sosiolog, sejarawan, wartawan, dan sosialis revolusioner Jerman (5 Mei 1818-14 Maret 1883).

Orang awam kurang lebih sama, kecuali mereka yang mengenal sejarah dunia hiburan, khususnya yang berkiblat ke Amerika Serikat (AS). Tapi berapa banyak warga Mongondow yang meminati sejarah dengan serius, apalagi pasal sepele seperti sejarah hiburan?

Boleh dibilang, membicarakan Groucho Marx (2 Oktober 1890-19 Agustus 1997) di komunitas umumnya di Mongondow sama dengan menjelaskan apa yang sedang terjadi permukaan planet Mars. Membuat orang dengan cepat-cepat menguap atau pura-pura punya urusan yang dipenting-pentingkan, semacam, ‘’Ai, na’anta maya’ pa-bi’ aku’-oi mo-mamping kon sapi.’’ Atau, ‘’Na’-anta wakutu-nya bidong in rapat nami.’’

Lain halnya bila kita imbuhi dengan cerita bahwa nama itu terkait topeng dengan kacamata berbingkai tanduk, hidung besar, alis lebat, dan kumis melintang yang pernah populer (dan masih kerap kita lihat). Pembaca, topeng yang digunakan untuk lucu-lucuan di banyak kesempatan ini dikenal sebagai ‘’Groucho glasses’’.

Namun saya sependapat bila Groucho Marx, bahkan Karl Marx, bukan soal penting di Mongondow. Sama tidak pentingnya dengan para politikus yang terjangkit demam sosialisme dan sibuk mengkampanyekan seolah-olah mereka memihak dan mengedepankan kepentingan rakyat dalam segala hal. Yang disederhanakan sesederhana-sederhananya hingga menunjukkan omongan itu adalah ekspresi ketidaktahuan dan ketidakpahaman mereka.

Saya kerap geli mendengar dan membaca janji-janji politikus tentang ‘’pendidikan gratis’’ atau ‘’kesehatan gratis’’ seolah-olah rakyat bodoh dan percaya begitu saja. Atau omong-omong lebay semacam, ‘’Kami mendukung guru-guru, pedagang kecil, petani, dan para buruh karena mereka adalah para pahlawan kita.’’

Bah! Macam apakah difinisi pahlawan yang diomongkan itu? Adakah dia seperti sosok di film-film perang atau laga yang berakhir sebagai jasad dalam peti mati di bungkus bendera negara? Seorang pedagang di Pasar Serasi yang capek mendengar mulut manis para politikus dan aktivis yang silih-berganti menggunakan kesengsaraan mereka sebagai ‘’jualan’’, berkomentar, ‘’Iyo, torang pahlawan maar stengah mati deng mati trus. Ngoni yang hidop kong sanang-sanang kasana-kamari jual pa torang.’’

Sama menggelikan dengan membaca omongan politikus-politikus Partai Golkar (PG) Kota Kotamobagu (KK) setelah kekalahan kandidatnya di pemilihan Walikota-Wakil Walikota (Wawali), Senin (24 Juni 2013) lalu. Bagaimana tidak lucu, di saat di seluruh Mongondow kandidat yang didukung PG di pemilihan kepala daerah (Pilkada) bertumbangan, mereka tetap optimis di pemilihan umum (Pemilu) 2014 mendatang partainya pasti berjaya.

Yang paling optimis tentu para politikus bau kencur yang penuh semangat ‘’maju tak gentar kase toki kapala dia tiang baja’’. Mereka yang entah belajar politik dari mana tiba-tiba meroket jadi pengurus teras partai, berebutan tampil di depan publik (utamanya di media massa lewat ‘’berita berbayar’’ dan iklan), dan bersesak-sesakan di daftar calon anggota legislatif (Caleg). Dan bukan hanya di PG, melainkan merata di semua partai, paling tidak yang resmi terdaftar sebagai peserta Pemilu 2014.

Semestinya kita bangga melihat generasi baru politikus di Mongondow tumbuh bagai jamur di musim hujan. Masalahnya, berbeda dengan generasi terkini di belahan dunia lebih maju, yang tumbuh bersama kesadaran mengisi kepala dengan aneka pengetahuan, politikus-politikus muda kita benar-benar hanya punya dua modal utama: ba gantong di tali calana dan keberanian buka mulut. Tidak peduli yang diucapkan tak bermutu, yang penting bicara.

Di titik inilah Groucho Marx menemukan konteks lewat pernyataannya, Politics is the art of looking for trouble, finding it everywhere, diagnosing it incorrectly and applying the wrong remedies (Politik adalah seni mencari masalah, menemukan di mana-mana, salah mendiagnosis dan menerapkan solusi yang salah)." Groucho Marx bukan hanya komedian terbaik di era modern. Dia salah seorang ‘’pengamat’’ politik yang dengan tepat mendifinisikan perilaku para politikus.

PG di seluruh wilayah Mongondow yang makin didominasi politikus kemarin sore dan pemain tua yang kelelahan, benar-benar sesuai klasifikasi Groucho Marx. Partai ini adalah pohon beringin yang kelihatannya kokoh tapi rapuh digerogoti dari dalam. Akar-akar penopang utamanya dengan kecepatan konstan melapuk.

Mula-mula PG kehilangan jangkar di Bolaang Mongondow Timur (Boltim) dan Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel). Kandidat mereka di Pilkada, terutama di Boltim, dikalahkan dengan telak oleh pesaing yang bahkan dari sejumlah sigi peluangannya berpaut langit dan bumi. Terdepak dari arus utama politik itu berulang di Pilkada Bolaang Mongondow (Bolmong) Induk dan Bolaang Mongondow Utara (Bolmut), di mana kandidat usungan PG hanya menempati urutan ketiga. Kejatuhan pamor partai yang berjaya hingga 2011 ini kian lengkap dengan tumbangnya Ketua PG KK di Pilwako.

Baiklah, sejumlah politikus PG masih berkeyakinan bahwa Pilkada berbeda dengan Pemilu. Tapi dengan orang-orang yang itu-itu juga, para politikus yang telah kehilangan minat dan selera konstituen, akankah partai ini masih menjadi penguasa legislatif di seluruh Mongondow di Pemilu 2014? Solusi apa yang telah mereka siapkan, sementara faktanya tidak ada pendekatan baru dan kreativitas politik yang dipraktekkan sejauh ini?

Beruntunglah PG di Mongondow karena mereka sekarat di antara dinamika politik yang sama sakitnya. Partai-partai lain yang kini berada di arus tengah, Partai Amanat Nasional (PAN) di KK dan Bolmong; Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Bolmut; PDI Perjuangan di Bolsel; dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Boltim, sama zaman doeloe dan tidak kreatifnya dengan PG. Dengan kata lain, hampir semua partai dan para politikusnya menyerahkan arah politik di Mongondow pada kewarasan, pengetahuan, dan kearifan masyarakatnya.

Telah seberapa tinggi masyarakat Mongondow memahami dan menyadari politik sebagai salah satu aspek penting mencapai keinginan mereka? Apakah sekadar perebutan kekuasaan yang diwarnai bagi-bagi berkah lewat ‘’serangan 24 jam’’ atau lebih dari itu?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu adalah urusan para pakar dan bijak-bestari. Saya hanya berharap akhir dari peran politik PG di Mongondow tidaklah seperti cerita pendek klasik, Robohnya Surau Kami (1955), dari AA Navis (17 November 1924-22 Maret 2003).Tapi kalau partai ini tumbang di wilayah Mongondow 2014 mendatang, siapa peduli? Toh yang roboh adalah beringin mereka.***