Palas

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Balai Pustaka, 2005, mencantumkan: kro.nik n catatan peristiwa menurut urutan waktu kejadiannya; susunan waktu; yang berhubungan dengan waktu. Sedang Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI), Balai Pustaka, 2006, menjelaskan: kronik E cerita yang meriwayatkan suatu peristiwa tersusun menurut waktu terjadinya.

Foto-Foto: Internet

Minggu, 13 April 2014

Ideologi ‘’Salesman’’ Obat Cacing

BEBERAPA menit jelang pukul 00.00 Wita, Sabtu (12 April 2014), BBM saya menerima rekaman suara dan rangkaian foto sangat menggelikan, meruapkan kantuk yang kental menggantungi kelopak mata. Rekaman dan gambar-gambar ini sejatinya dikirim sebagai respons terhadap tulisan Tragedi Kilah Akalbusyukus yang saya unggah kurang dari satu setengah jam sebelumnya.

Tak ada teka-teki sebab pengirimnya menyertakan keterangan. Semuanya (rekaman suara dan foto-foto) diambil di Boltim saat pertemuan dan pengukuhan tim pendukung pemenangan Caleg PG Dapil Sulut untuk DPR RI, Didi Moha.

Mendengarkan rekaman suara yang dikirim itu, tawa saya meledak. Oh, rupanya anggota tim pemenangan dikukuhkan dengan mengucapkan janji yang langsung dipimpin Didi. Sungguh sangat ‘’djaman doeloe’’ dan sontak mengingatkan saya pada upacara-upacara sejenis ketika mantan Bupati Marlina Moha-Siahaan memimpin Bolmong.

Di masa itu bahkan lebih ‘’seram’’ lagi sebab PNS yang dipromosi tidak sekadar mengucapkan sumpah jabatan. Mereka juga wajib melewati ritual bai’at pengikat loyalitasnya pada Bupati.

Bahkan setelah lebih 15 tahun Orba tumbang, praktek-praktek politik mirip sekte keagamaan yang menghina akal sehat dan miskin imajinasi masih dilestarikan. Alih-alih menggugah kesadaran dengan visi, misi, dan ide-ide besar, yang dilakukan adalah upacara yang tak beda dengan konser bebek. Terlebih, konduktornya tak lain dan tak bukan adalah Pitres Sombowadile.

Sama seperti rekaman suara, foto-foto yang saya terima sama kocaknya. Selain bagi-bagi amplop yang semestinya layak jadi bukti politik uang (tapi percuma mengingat Panwaslu di Mongondow tampaknya diseleksi dari golongan picek, tuli, dan terkebelakang), serangkaian frame itu bagai menendang jidat saya. Dari Pitres ber-polo shirt tengah bercakap-cakap dengan Didi Moha; Pitres menggunakan kemeja kuning berlambang PG; hingga Pitres dengan kemeja yang sama –ternyata dihiasi gambar wajah Didi di sisi kanan—tengah memberikan presentasi.

Lalu mendadak saya merasa bersalah karena sejak Rabu, 2 April 2014, telah mengunggah tiga tulisan yang mengkritisi Pitres dan apa yang dia lakukan di Bolmong Raya, khususnya berkaitan dengan kampanye Pemilu 2014 dan persaingan politik antara anggota DPR RI berlatar Mongondow, Didi Moha dan Yasti Soepredjo Mokoagow yang berasal dari PAN. Andai rekaman suara dan foto-foto itu diterima jauh hari sebelumnya, saya tidak akan pernah menulis apapun tentang Pitres, utamanya yang berkaitan dengan motif dan kepentingannya menulis PAN dan Tragika Yasti.

Begini, pembaca, yang terindah dari pertemanan adalah selalu menempatkan seorang kawan sebagaimana keinginannya dipersepsi oleh para karib dan umum yang lebih luas. Pitres yang saya kenal berpuluh tahun tak henti memelihara dan meyakinkan orang banyak bahwa dia adalah sosok dengan ideologi tegas: Seorang pemikir cerdas yang independen; kukuh dan lurus dalam sikap; berani dan teguh membela yang benar –sekaligus pantang mundur di hadapan yang bathil--; serta berpihak pada akal sehat dan kepentingan publik. Pendek kata, ideologinya adalah jalan lurus orang-orang terhormat.

Pitres mengekspresikan ideologi yang dia anut dengan sikap yang seolah-olah tampa kompromi. Setidaknya itu yang diperlihatkan di hadapan saya dan kebanyakan orang yang mengenal dekat dia. Dan saya mengaminkan tanpa reserve. Dalam pertemanan, saya hanya mengenal dua hal: Jika percaya, maka 100 persen percaya. Bila tidak, maka mesti 100 persen tidak percaya pula.

Kepercayaan itulah yang digoyahkan oleh rangkaian foto bagi-bagi amplop di depan mata Pitres serta persulihannya dari polo shirt ke uniform kuning berlambang PG, berhias foto Didi Moha. Bagaimana mungkin kawan yang dengan gagah-berani menuding banalisme praktek politik uang, yang mewartakan domokrasi sebagai jalan suci berbangsa dan bernegara, membiarkan perilaku itu lalang-lalang di depan hidungnya? Bahkan dia sendiri turut serta di dalamnya.

Bagaimana saya tak terpukul melihat foto-foto kawan yang selalu mengaku melawan tirani Soeharto dan alat-alatnya, sekarang dengan sukarela mengenakan pakaian dengan lambang yang identik dengan salah satu ‘’kanon’’ kekuasaan Orba? Bagaimana pula saya mempertahankan keyakinan bahwa Pitres adalah pemikir yang ideologis, bukan sekadar tukang atau salesman yang terpaksa menjaja produk yang bertolak belakang dengan nilai-nilai anutannya, sebab perut dan kepentingan hidup jauh lebih penting dibanding nilai-nilai luhur?

Hati kecil dan kewarasan saya menolak mempercayai seorang Pitres Sombowadile kini menggadaikan segala yang dia khotbahkan hanya demi kepentingan jangka pandek. Saya tidak mempercayai dia telah berubah menjadi sekadar event organizer atau penjual produk yang setiap saat berganti tampilan demi kepentingan klien. Sungguh, tak pernah terlintas di benak membayangkan hari ini dia berdandan dengan pakaian bergambar obat cacing karena produk inilah yang sedang dijajakan; besok shampoo anti ketombe sebab kliennya adalah produsen consumer goods; dan lusa pil diare demi memuaskan perusahaan farmasi yang diurusi

Yang saya pahami, dengan ideologi yang dianut sungguh-sungguh, seorang pemikir, cendekiawan, intelektual, atau apapun sebutan yang disematkan, semestinya seperti ikan di samudera. Air laut yang asin tidak mengubah warna dan rasa seekor ikan, semata-mata karena dia berenang dan berkubang garam.

Bertolak belakang dengan pikiran-pikiran saya yang biasanya radikal dan tak mau tahu, kali ini saya menolak mengubah persepsi yang terbentuk bertahun-tahun terhadap Pitres. Sekali pun faktanya sama sekali berbeda dengan kekinian. Tersebab itu, setelah tulisan ini, saya berhenti menyahuti dia. Kalau mengecilkan Yasti efektif sebagai cara Pitres menjajakan produknya, saya berharap yang menjadi obyek tidak berkecil hati. Demikian pula, bila menyerang saya dengan fakta-fakta yang dimanipulasi dan dikaburkan menolong apa yang sekarang dia tekuni, dengan kerendahan hati saya ikhlaskan dan persilahkan.

Bila yang disiarkan Pitres berkaitan dengan saya berdampak buruk, siapa yang hirau? Saya tidak memerlukan barisan pengikut yang memuja-muja atau dipaksa terkagum-kagum terhadap retorika, heroisme, dan klaim kejagoan. Kepentingan saya setiap kali berada di Mongondow sederhana belaka: reriuangan dengan majelis Kopi Jarod; diskusi dan debat di persamuhan bebek pedas; dan berbual-bual dengan kalangan terdekat. Selebihnya, menjelajahi Bolmong Raya dengan jeans dan t-shirt bertulis aneka-rupa, sesuka suasana hati saya.***

Singkatan dan Istilah yang Digunakan:

BBM: BlackBerry Messenger; Bolmong: Bolaang Mongondow; Boltim: Bolaang Mongondow Timur; Caleg: Calon Legislatif; Dapil: Daerah Pemilihan; DPR: Dewan Perwakilan Rakyat; Orba: Orde Baru; PAN: Partai Amanat Nasional; Pemilu: Pemilihan Umum; PG: Partai Golkar; PNS: Pengawai Negeri Sipil; RI: Republik Indonesia; Sulut: Sulawesi Utara; dan Wita: Waktu Indonesia Tengah.

Sabtu, 12 April 2014

Tragedi Kilah Akalbusyukus

MENGHARUKAN betul upaya kawan saya, Pitres Sombowadile, menegakkan ego dan dada agar tak kehilangan muka di depan tuan dan puan junjungannya, serta publik (khususnya Bolmong Raya) yang dia kira mudah mempercayai bual-bual retorik. Kendati sejak awal menyakini dia akan berkelit mati-matian (sebagaimana yang saya tulis Selasa, 8 April 2014, Motif Politis Ular di Balik Tangga), saya tetap terkejut membaca Katamsi yang Dangkal, yang tiba di email dan BBM saya, Kamis malam, 10 April 2014.

Bukannya fokus pada substansi isu, dia malah dengan sengit menyerang, menyepak, dan mencakar-cakar, seolah ada sesuatu yang sangat sensitif yang saya langgar. Padahal, saya cuma mengemukakan dua hal pokok: kejujuran dan pemahaman terhadap etika yang memang menjadi penyakit laten Pitres. Dengan tulisan serangan yang merambat dan mengait kemana-mana, dia mempertontonkan satu lagi problem yang sesungguhnya sejak dulu saya mahfumi: kelicikan persis penggambaran karakter Akalbusyukus oleh Uderzo dan Goscinny di salah satu seri Kisah Petualangan Asterix, Sang Penghasut (Sinar Harapan, 2004).

Baiklah, kita lanjutkan saja saling sahut ini sebagai latihan otot jantung dan perasaan. Bahwa saya agak terlambat merespons, karena tiga hari terakhir menghabiskan waktu menempuh perjalanan panjang yang lumayan menguras energi. Saya kan punya pekerjaan yang harus diurusi, bukan sekadar petantang-petenteng dukung-mendukung politisi yang memang menjadi profesi utama yang telah dilakoni Pitres setidaknya lebih 10 tahun terakhir.

Pertama, Kronik Mongondow adalah blog pribadi dengan aturan yang saya buat sesuka hati. Yang merasa terganggu dengan isinya, silahkan menempuh jalur hukum menggunakan UU ITE; menulis sanggahan, koreksi, keberatan, dan sejenisnya dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan saya akan mengunggah setara dengan tulisan-tulisan lain; atau, yang lebih elegan, bikinlah  blog sendiri dan isi semau-maunya sebagaimana saya beria-ria dengan Kronik Mongondow.

Dibuka selebar-lebarnya keterlibatan siapa pun menulis di blog ini, sepanjang memenuhi kriteria yang ditetapkan, dapat dibuktikan bukan omong kosong. Cukup banyak tulisan yang dikirim ke kronik.mongondow@gmail.com telah dipublikasi, termasuk yang mengkritik saya tanpa tedeng aling-aling.

Kedua, Pitres yang saya kenal memang penulis dengan ide yang tak genah, berputar-putar, tetapi dengan kesenangan terhadap klaim kepahlawan serta keyakinan menjulang dia adalah salah satu yang terbaik di Sulut. Faktanya, saya tidak pernah ingat satu artikel, tulisan, atau apalah, dari dia yang pernah di muat, sekurangnya di media sekelas Koran Tempo, Kompas, atau Media Indonesia.

Maaf, Pit, tapi tulisan Anda memang tidak berkualitas. Miskin ide dan compang-camping dalam bahasa. Contohnya adalah kata ‘’tragika’’ yang dengan baik hati saya koreksi, namun tetap mati-matian Anda kelit. Saya segarkan lagi, ‘’tragika’’ (Esperanto) disamakan dengan ‘’tragic’’ (Inggris). ‘’Tragic’’ sendiri dalam bahasa Indonesia bukan diartikan ‘’tragedi’’, melainkan ‘’tragis’’.

Kamus mana yang saya gunakan? Pertanyaan ini sama dengan pengakuan Pitres bahwa dia sekadar meraba-raba bahasa Esperanto dan sama sekali tidak mengetahui arti sesungguhnya ‘’tragika’’ serta penggunaannya, terutama dalam konteks Indonesia. Maka pantaslah Kantor Balai Bahasa di Manado tidak lagi menggunakan Pitres sebagai nara sumber.

Ketiga, saya pernah menganalisis kiprah politik Drs. Syachrial Damopolii, MBA berkenaan dengan respons terhadap tulisan Pitres? Pit, bolehkah ingatan saya yang dangkal ini disegarkan, di mana dan kapan analisis itu pernah saya tulis atau sampaikan? Tampaknya ada yang mengigau dan kebingungan di antara kita berdua. Yang jelas, bukan saya orangnya.

Dalam soal memahami hegemoni, penguasa, dan kekuasaan (terutama politik) di Mongondow, Pitres yang terlanjur meninggikan derajatnya, buta terhadap sindiran. Saya, yang lahir dan besar di Mongondow dan tidak berada di pinggiran pergaulan sosial, kenal dan tahu persis sepak-terjang pemain-pemain politik utama daerah ini sejak mereka merangkak dari nol hingga ke puncak tangga pengaruh dan kekuasaannya.

Saya bergaul dengan mereka sebagai orang yang datang dengan harga diri dan indepensi. Bukan demi motif pekerjaan, kepentingan perut, sebagaimana yang Anda lakukan selama ini. Kepentingan Anda menemui politisi, pejabat publik, atau tokoh di Mongondow tidak lepas dari menjajakan jasa (atau tepatnya omong kosong) konsultasi politik dan sejenisnya.

Di situlah letak perbedaan mendasar kita, Pit. Tanyakan pada seluruh politisi, pejabat publik, atau tokoh-tokoh masyarakat di seluruh Mongondow, mereka akan memastikan saya hanya hadir dan bertemu bila diundang. Dan kalau itu dilakukan di tempat-tempat umum, cuma sangat sedikit orang (yang jelas adalah Bupati Boltim, Sehan Lanjar, dan Yasti Soepredjo Mokoagow) yang saya izinkan merogoh dompet membayari apa yang saya makan dan minum.

Keempat, tentang keterkaitan Anda dengan Mongondow, Pit, mari kita jujur saja. Anda masuk ke daerah ini, bersikap seolah-olah yang terhebat, dimulai karena Tabloid KABAR (media yang idenya 100 persen lahir dari kepala saya) tengah sekarat setelah kepergian para perintisnya, memerlukan dukungan agar tetap terbit. Anda merapat dan menjadikan KABAR pendukung Bupati (ketika itu) Marlina Moha-Siahaan. Buktinya, jejerkan saja nomor-nomor terakhir sebelum KABAR tewas dan baca kembali apa isinya; atau mari kita undang mantan-mantan wartawannya dan sama-sama mendengarkan kesaksian mereka.

Mongondow, bagi saya, adalah tempat di mana semua orang boleh datang dan diberi tempat terhormat. Anda pun dipersilahkan. Tentu dengan ketahu-dirian, bahwa keterkaitan yang Anda sebut (orangtua berasal dan hidup sekian lama di Sangtombolang, Bolmut, dan Jiko Molobog, Boltim, di 1950-an sebelum pindah ke Manado), tidak serta merta menjustifikasi Anda adalah orang Mongondow. Tunjukkan bukti faktual bahwa Anda yang pernah menjadi Caleg PDIP di Sangihe-Talaud memang memproklamirkan diri sebagai orang Mongondow. Yang sederhana, KTP misalnya.

Klaim sebagai bagian dari Mongondow, lengkap dengan alasan menulis buku ini-itu, adalah upaya mencari ‘’tanah air’’ yang saya sambut dengan kesenangan luar biasa. Tetapi, Pit, Anda mengaku menjadi Mongondow sekarang ini karena hanya di wilayah inilah masih diterima dan mendapatkan gantungan hidup. Tidak lebih dan kurang. Itu pun oleh orang-orang yang jumlahnya kian sedikit dan sempit.

Kelima, saya (sekali lagi) tidak peduli Pitres mau menulis apa dan dibaca oleh siapa; sepanjang dia secara jujur dan terbuka membeberkan indentitas diri, posisi, dan sumber-sumber yang dirujuk. Masalahnya, ketika menulis PAN dan Tragika Yasti dengan mengutip sumber survei yang entah kapan dan oleh siapa, dia adalah anggota tim pendukung Didi Moha, rival politik Yasti di Pemilu 2014. Dua politisi asal dan berlatar Mongondow ini, masing-masing dari PG dan PAN, sama-sama incumbent yang menyasar konstituen Bolmong Raya sebagai basis utamanya.

Dengan takaran apapun, publikasi itu adalah cara tidak etis dan tidak jujur menyerang pesaing politik. Permainan kotor dan tikaman yang seolah-olah demi mendorong kesadaran politik publik pemilih. Seolah-olah sedang menggugah konstituen agar memilih orang yang ‘’bersih’’ dari partai yang pasti lolos parliamentary threshold. Jadi, Anda memang cacat etika, tidak jujur, dan manipulator yang percaya diri ulung dan tak bakal ditelisik atau dikoreksi.

Dan keenam, sangat benar saya pernah dipersoalkan oleh sejumlah aktivis yang kerap berkumpul di LBH Manado, tetapi bukan saat lembaga ini berkantor di Rike, melainkan di Pakowa (ingatan Anda benar-benar celaka payahnya, Pit). Urusannya bukan pula tentang perut atau penghianatan, melainkan keberatan karena saya tak sudi dibatasi berhubungan dengan siapa pun, terutama sejumlah orang yang dianggap sebagai ‘’musuh’’ oleh kelompok pemrotes itu.

Berbeda dengan Anda, saya tak terbiasa menelikung kawan. Toh pada akhirnya, bertahun kemudian mereka yang pernah menjadi pemrotes itu tetap menjadi kawan, bahkan menjalin hubungan dengan orang-orang sejenis yang pernah dijadikan alasan menyerang saya. Hingga saat ini, evolusi kawan-kawan itu (termasuk ideologi yang mereka anut) tidak saya jadikan alat menyerang atau mengolok-olok.

Nah, Pit, sebelum dada Anda kian sesak (lagipula saya risih mengungkap hal-hal yang telah dimaafkan), tolong diingat-ingat bagaimana kami yang pernah seiringan dengan Anda mengikhlaskan ditelikung saat kita sama-sama mengelolah KABAR. Itu saja dulu.

Selebihnya, beber saja data survei mana dan kapan yang dirujuk saat menulis PAN dan Tragika Yasti. Demikian pula, akui saja Anda memang menjadi salah satu tokoh utama tim pendukung pesaing politik Yasti di Pemilu 2014. Akan halnya motif, dengan membuka semua sejujur-jujurnya, saya (dan mungkin segelintir orang yang biasanya sekadar tersenyum kecut) pasti memahami: Apa yang Anda lakukan bukan soal perut, tetapi kerja profesional dengan ideologi dan niat yang tak busuk. Dengan bersembunyi di balik aneka kilah, syak yang paling mungkin Anda memang hanya membela urusan perut agar tetap dipekerjakan.

Akhirnya, tak usahlah menguji integritas, apalagi independensi saya. Isu yang kita bahas bukanlah tentang saya; tetapi tentang integritas Anda. Itu pun kalau Anda memilikinya.***

Singkatan dan Istilah yang Digunakan:

BBM: BlackBerry Messenger; Bolmong: Bolaang Mongondow; Bolmut: Bolaang Mongondow Utara; Boltim: Bolaang Mongondow Timur; Caleg: Calon Lagislatif; ITE: Informasi dan Transaksi Elektronik; KTP: Kartu Tanda Penduduk; LBH: Lembaga Bantuan Hukum; PDIP: Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan; Pemilu: Pemilihan Umum; dan UU: Undang-undang.

Selasa, 08 April 2014

Motif Politis Ular di Balik Tangga

TAUTAN FB tiba di BBM saya bersama turunnya malam di langit Jakarta, Selasa (8 April 2014). Oh, rupanya kawan saya, Pitres Sombowadile, terusik dengan Yasti yang saya unggah di blog ini, Rabu (2 April 2014. Tulisan yang memang menyentil artikel PAN dan Tragika Yasti di www.okemanado.com, Selasa (25 Maret 2014), tampaknya membuat Pitres ‘’gatal-gatal’’ lalu menulis pembelaan diri berapi-api, Ular Tangga Yasti untuk Katamsi di FB-nya.

Pit (ini sapaan karib saya pada dia), santai saja. Saya tidak terganggu dengan PAN dan Tragika Yasti. Yang mengganggu saya adalah motif Anda, yang nanti akan diuraikan setelah saya mengklarifikasi beberapa hal mustahak yang mesti dibeber terlebih dahulu.

Pertama, siapakah orang-orang yang ingin menanggapi tulisan di blog saya yang tidak diberi kesempatan? Simpulan bahwa saya berlaku digjaya, selfi, bahkan komunikasi masturbasi, berdasar bisik-bisik, aku-mengakui, atau hasil terawangan dan nujuman Anda? Email yang disediakan sebagai ‘’Kotak Pos’’ untuk para penanggap selalu dicek dan pesan yang masuk terakhir tercatat pada Jumat, 28 Maret 2014, dari Yodi A Marendes, SE. Artikel yang dikirim Yodi tidak ada hubungan dengan aneka tulisan yang diunggah di Kronik Mongondow, baik sebagai tanggapan, komentar, apalagi kritik.

Sebelum menulis artikel ini pun saya masih mengecek kronik.mongondow@gmail.com, apakah Pitres Sombowadile yang mengagungkan dialog, komunikasi, dan jawab-menjawab, mengirim sesuatu karena merasa terusik dengan blog saya? Tentu tidak, karena keluhan ‘’penanggap yang tidak diberi kesempatan’’ di Kronik Mongondow, memang sekadar karang-karangan belaka. Dan tuduhan Pitres itu pantas didudukkan sebagai cara berkelit yang tidak terpuji.

Kedua, perkara kata ‘’tragika’’, saya tahu persis itu berasal ‘’bahasa’’ Esperanto yang dikreasi oleh L. L. Zamenhof dan dipopulerkan lewat buku Unua Libro (1887). Masalahnya, apakah ‘’tragika’’ yang dimaksud Pitres sama dengan pengertian tragika menurut Zamenhof? Yang paling gampang googling ‘’tragika’’ dan perhatikan bahwa pengertian bahasa Inggris-nya adalah ‘’tragic’’; yang bila di-cross check berarti: 1) Causing or characterized by extreme distress or sorrow; 2) of or relating to tragedy in a literary work.

Dengan demikian, Pit, harus Anda terjemahkan apa ‘’tragika’’ yang dimaksud di tulisan PAN dan Tragika Yasti? Menulis (sesuatu yang bukan puisi) tak cuma pamer kemampuan mengulak-alik bahasa hingga seolah aneh, luar biasa, dan memukau; juga plastisitas sebagaimana pujian Anda pada Fahri Damopolii yang dianggap lebih hebat menulis dari saya (sayangnya saya belum pernah melihat sepotong pun tulisan dari penulis hebat ala Pitres ini di media mainstream Indonesia); melainkan merunutkan ide dan mengemas menjadi sesuatu yang dipahami jernih dan terang-benderang.

Setelah malang-melintang menulis bertahun-tahun, Anda kok tidak lulus-lulus juga urusan sepele yang mestinya khatam di kalangan para penulis (pemula sekali pun), ya, Pit? Soal menaruh kata yang tepat di tempat yang sesuai. Judul yang salah sudah menunjukkan sejak mula sebuah tulisan memang tidak membawa kandungan ide yang sincere dan linier.

Ketiga, mari diaminkan saya memang tidak mengerti hegemoni para politisi asal atau berlatar Bolmong Raya; pula dangkal memahami rajutan dan kelindang relasi penguasa dan kekuasaan di wilayah Mongondow. Tapi memangnya Pitres punya pemahaman yang lebih baik dan komprehensif?

Wajar bila saya tidak tahu aspek-aspek luar biasa dan wah perihal hegemoni, tetek-bengek penguasa, dan kekuasaan, terlebih yang politik dan politis. Saya bukan tokoh publik, politisi, apalagi konsultan politik. Cuma penulis blog yang kerap bikin jengkel politisi, lebih khusus lagi pendukung fanatik (tak pakai otak) dan konsultan politiknya.

Lain soal kalau Pitres yang tidak paham hegemoni, aneka biludak penguasa serta kusu-kusu kekuasaan, bisa-bisa politisi yang dia konsultani (atau yang didukung) gagal terpilih, semisal kasus kalahnya Cabub-Cawabup Limi Mokodompit-Meydi Pandeiroth di Pilkada Bolmong 2010 lalu. Dan sebagai kawan, saya memang kuatir, kian hari kian banyak politisi yang dalam timnya terdapat Pitres bakal gagal, karena karena konsultan (atau penasehat) politiknya lebih sibuk mengurus lawan dan ‘’tragika’’-nya ketimbang menelaah tragedi yang menghadang kandidat jagoannya.

Dan keempat, dugaan saya-lah yang akan dimajukan oleh PAN dan Yasti merespons tulisannya, cuma cara mengekspresikan kesombongan orang kepepet. Pit, saya memang bertemu Yasti Soperedjo Mokoagow pada Rabu malam (26 Maret 2014) di Kotamobagu. Namun, maaf saja, percakapan kami (juga disaksikan sejumlah orang) hingga menjelang Kamis pagi (27 Maret 2014), sama sekali tidak menyinggung Anda, apalagi tulisan Anda. Banyak hal lebih penting yang layak dibahas ketimbang perkara sepele megalomania Anda.

Terlebih jauh-jauh hari saya sudah mengingatkan Yasti soal parliamentary threshold PAN. Supaya tidak sekadar debat kusir dan kuda bendi, baca saja Menimbang Mama Didi, Didi Moha, dan Yasti Mokoagow (http://www.kronikmongondow.blogspot.com/2013/07/menimbang-mama-didi-didi-moha-dan-yasti.html) yang diunggah Selasa, 30 Juli 2013, di blog ini. Boleh dibilang, Pit, apa yang Anda tulis tujuh bulan kemudian, buat saya sudah basi, terkalkulasi, dan sama sekali tak menarik lagi.

Maka tibalah kita pada motif Pitres menulis PAN dan Tragika Yasti dan yang terkini, apalogi Ular Tangga Yasti untuk Katamsi. Saya memulai dengan pertanyaan: Apa kepentingan Pitres hingga secara khusus menelisik elektabilitas PAN di Sulut dan peluang Yasti (sebagai salah satu petahana) terpilih lagi ke DPR RI dari Dapil Sulut di Pemilu 2014 ini? Pitres adalah warga Sulut, tetapi dengan attachment minimal dengan Mongondow; kecuali bahwa dalam 10 tahun terakhir dia melibatkan diri dalam pikuk politik di Bolmong Raya sebagai konsultan, penasihat, atau mendukung politisi tertentu di Pileg, Pilkada, dan Pilwako.

Kalau alasan bahwa dia analis, pengamat, pemerhati, tukang telisik, bahkan penggosip politik, ada isu lain di skala Sulut yang yang lebih besar dan menarik. Misalnya, bagaimana bila PDIP berhasil meraih lebih dari dua kursi lalu tiba-tiba lokomotif utamanya, Olly Dondokambey, dijerat KPK sebagaimana rumor yang bersiliweran belakangan ini? Apa jadinya andai tokoh GMIM, Pendeta Nico Gara, yang dicalonkan Nasdem meraih suara terbanyak tapi partainya gagal mencapai parliamentary threshold?

Lebih ekstrim lagi, apa kata dunia kalau Caleg Nomor Urut 1 PG Dapil Sulut untuk DPR RI yang juga incumbent, Didi Moha, ternyata gagal terpilih karena kalah suara dengan pesaing dari partainya sendiri? Contoh terakhir tentu lebih maha penting bagi Pitres Sombowadile yang kini –sebagaimana Pemilu 2009— adalah bagian (kalau bukan tokoh sentral) tim pendukung Didi.

Saya mohon maaf sebesar-besarnya pada Didi Moha karena terpaksa menyebutkan keterkaitannya dengan Pitres. Tetapi, penyebutan ini sekaligus pengingat, posisi seorang politisi dengan konsultan, penasehat, atau pendukung utamanya tak beda dengan wayang dan dalang. Ketika dalang melompat masuk panggung meninggalkan wayangnya; pertunjukan cerai-berai dan tahulah kita etika macam apa yang dianut dalang tak tahu diri itu.

Alih-alih menasehati, melatih, mengkreasi strategi dan taktik agar politisi yang didukungnya sukses, Pitres justru naik pentas menyerang Yasti Mokoagow yang memang (sebagaimana Didi Moha) menggarap Bolmong Raya sebagai basis dukungan utamanya. Itu sebabnya, saya menilai PAN dan Tragika Yasti adalah belittling. Bentuk kampanye negatif (yang susah payah dibungkus agar halus dan elegan) dengan tujuan menggerus kepercayaan konsituen terhadap Yasti.

Dapatkah Pitres mendebat motif tak elok itu? Saya percaya dia masih punya banyak kelitan yang siap dijadikan alasan. Meminjam pengandaian yang dia rujuk, siapa yang tahu ular seperti apa yang ada di balik tangga?

Karenanya, demi berjaga-jaga, saya menyiapkan hadiah buku-buku etika dan sebotol St. Emilion Bordoux. Barangkali dengan dikawani wine lezat lebih mudah buat Pitres menyesap dan meresap etika seperti apa yang mesti ketat dianut seorang ‘’dalang politik’’. Bukankah begitu baiknya, Pit?***

Singkatan dan Istilah yang Digunakan:

BBM: BlackBerry Messenger; Bolmong: Bolaang Mongondow; Cabup: Calon Bupati; Caleg: Calon Legislatif; Cawabup: Calon Wakil Bupati; Dapil: Daerah Pemilihan; DPR: Dewan Perwakilan Rakyat; FB: Facebook; GMIM: Gereja Masehi Injili Minahasa; KPK: Komisi Pemberantasan Korupsi; Nasdem: Nasional Demokrat; PAN: Partai Amanat Nasional; PDIP: Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan; Pemilu: Pemilihan Umum; PG: Partai Golkar; Pilbub: Pemilihan Bupati (dan Wakil Bupati); Pileg: Pemilihan Legislatif; Pilwako; Pemilihan Walikota (dan Wakil Walikota); RI: Republik Indonesia; dan Sulut: Sulawesi Utara.