Palas

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Balai Pustaka, 2005, mencantumkan: kro.nik n catatan peristiwa menurut urutan waktu kejadiannya; susunan waktu; yang berhubungan dengan waktu. Sedang Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI), Balai Pustaka, 2006, menjelaskan: kronik E cerita yang meriwayatkan suatu peristiwa tersusun menurut waktu terjadinya.

Foto-Foto: Internet

Selasa, 22 April 2014

Kebodohan Belum Berujung di Dumoga

PERTIKAIAN antar warga Desa Ikhwan dan Doloduo, Dumoga, Kabupaten Bolmong, meletus Sabtu malam (19 April 2014). Dari yang saya baca di sejumlah situs berita, rusuh ini dipicu ulah mabuk-mabukkan sejumlah anak muda kurang kerjaan, lalu merembet jadi tawur massal. Di saat yang sama satuan Brimob yang usai melakukan pengamanan pleno KPU Bolsel melintas di TKP.

Entah harus disebut apa kondisi itu: api bertemu bensin, atau bensin bersua kobaran. Yang jelas peluru berhamburan dan korban pun jatuh.

Ada dua fakta yang lalu jadi konsumsi umum: Pertama, versi kelompok yang mengaku korban, yang beredar di media-media sosial –termasuk BC Sehan Ambaru yang mengklaim sebagai juru bicara keluarga korban-- bahwa polisi bertindak semena-mena. Melentuskan bedil tanpa pandang bulu. Enam orang mesti digotong ke RS. Maka patut dituduh ada pelanggaran HAM berat. Dan kedua, sebagaimana keterangan Kapolres Bolmong, AKBP Hisar Siallagan, Minggu (20 April 2014), polisi bertindak tegas demi menggendalikan massa yang kalap. Ajudan Kapolres bahkan terkena peluru senapan angin.

Dengan simpati dan empati terhadap para korban yang jatuh, dua versi yang mengemuka itu sepantasnya diterima dengan pandangan kritis yang sama. Versi pertama, khususnya ‘’kampanye’’ bahwa polisi melakukan pelanggaran HAM berat, menurut hemat saya adalah provokasi pahlawan kesiangan. Bertahun-tahun pertikaian antar komunitas, antar desa, di Dumoga tak kunjung terselesaikan. Dia hanya mereda ketika aparat berwenang turun tangan dengan cara melampaui tegas.

Seingat saya, demi menjaga stabilitas dan keamanan, ada satu masa TNI mesti dikerahkan membantu polisi di wilayah ini. Jangan tanya lagi berapa banyak korban jiwa dan harta benda yang jatuh karena rusuh yang umumnya dipicu urusan-urusan kecil: mabuk-mabukkan berujung perkelahian, penghadangan dan pemerasan, dan sejenis kriminalitas kelas teri lainnya. Tatkala dua kelompok massa berhadap-hadapan dan memakan korban, kemana otak HAM PNS yang tetap gatal mengaku-ngaku aktivis seperti Sehan Ambaru?

Korban yang jatuh, terlebih yang terkena peluru aparat (entah sekadar terserempet hingga yang telak menghujam daging), pantas mendapat keadilan dengan diusut tuntasnya peristiwa ini. Tentu dengan memilah siapa korban yang tersebab memang ikut serta di kerumunan massa yang saling merengsek; dan mana yang dihajar peluru samata karena salah sasaran. Masalahnya, setidaknya yang tergambar di media, para korban tidaklah dilanggar timah panas saat meringkuk di balik selimut; selonjoran menonton televisi; atau sedang khusyuk sholat atau doa malam.

Mereka, sekali pun berjarak (demikian pengakuan yang saya simak di situs berita) cukup jauh dari kelompok yang sedang berhadap-hadapan dengan parang terhunus, seliweran panah wayer, dan tembakan senapan angin, semuanya berada di luar rumah. Risiko dari terlibat atau sekadar menonton bentrok massa adalah turut terseret. Kalau bukan akhirnya menjadi pelaku, ya, jatuh sebagai korban.

Sebaliknya, versi polisi bahwa tembakan diletuskan karena massa yang bertikai tak lagi terkendali, mulanya tak saya telan mentah-mentah. Satuan yang secara kebetulan memergoki rusuh adalah Brimob yang memang dilatih dan terlatih sebagai pasukan pemukul; bukan jenis polisi yang terampil menangani huru-hara dengan pendekatan persuasif. Dugaan saya, begitu menyua massa yang saling lantak, senjata dikokang dan peluru disemburkan. Terlebih mereka sedang dalam kondisi lelah setelah berhari-hari ditugaskan di mengawal pelaksanaan Pemilu.

Kombinasi penat jiwa dan raga, sejarah rusuh yang kunjung padam di Dumoga, serta massa yang jelas-jelas mengobarkan gangguan keamanan dan ketertiban, efektif memantik tindakan tanpa kompromi dari Satuan Brimob. Simpulannya, tak berlebihan bila tak ada cukup tindakan penenangan terhadap massa yang beringas sebelum peluru bicara.

Semasa masih berhobi demonstrasi, dua jenis aparat yang membuat kuduk bergidik adalah Brimob dan TNI (tak peduli dari angkatan dan satuan mana): Mereka biasanya menggebuk dulu baru bertanya. Beda dengan aparat kepolisian yang lebih terlatih dengan pendekatan yang tak semata-mata tegas (misalnya) dari satuan Sabhara, Intel, bahkan Reserse, yang umumnya bertanya dulu baru melayangkan tempeleng atau bogem.

Namun, Senin siang (21 April 2014), saya menganulir konklusi itu tatkala menerima kabar dari seorang kawan jurnalis yang sedang berada di TKP, bahwa bentrok Ikhwan dan Doloduo) berlanjut lagi. Tanpa peluru polisi, korban tak henti berjatuhan. Setidaknya, sebagaimana yang dipublikasi situs totabuan.co (http://totabuan.co/2014/04/dua-kelompok-masa-kembali-saling-serang-empat-orang-kena-senapan-angin-dan-panah-wayer/), empat orang lagi jadi korban kebodohan massal yang belum berujung di Dumoga akibat hujaman panah wayer dan pelor senapan angin.

Kemana akal sehat dan kewarasan warga dua desa ini? Tokoh-tokohnya, para orang tua, termasuk aktivis yang biasanya gempita bersuara? Masak sih khalayak yang lebih luas dari sekadar dua kelompok yang senang bertikai kalah pengaruh dan kekuatan? Atau memang warga di dua desa ini lebih suka menyelesaikan masalah paling sepele sekali pun dengan tebas-tebasan, panah-panahan, tembak-tembakan (dengan senapan angin), dan bakar-bakaran? Kalau begitu adanya, yang pantas dilakukan otoritas dan aparat berwenang adalah mengungsikan sesiapa yang tidak berniat berkonflik dan selebihnya mempersilahkan yang berkehendak bunuh-bunuhan untuk saling menghabisi.

Saya yakin orang banyak di Bolmong Raya sudah muak dan sakit perut dengan kelakuan segelintir orang yang gemar berhuru-hara itu. Kita juga tak habis pikir mengapa tawuran massal antar desa telah menjadi semacan budaya (mirip pesta panen) yang kian dilestarikan di wilayah Dumoga. Sama halnya dengan tanda-tanya seberapa serius aparat berwenang mengusut tuntas peristiwa sejenis, menyeret dalang dan aktor-aktornya ke bui dengan hukuman maksimal agar ada efek jera permanen. Pula, sejauh mana aparat sungguh-sungguh menjamin keamanan dan ketertiban dengan tak segan-segan menembak di tempat setiap perusuh yang tak kapok diperingatkan.

Akan halnya ancaman pelanggaran HAM, memangnya cuma orang-orang tak berotak itu yang punya hak asasi?

Singkatan dan Istilah yang Digunakan:

AKBP: Ajun Komisaris Besar Polisi; BC: Broadcast; Bolmong: Bolaang Mongondow; Bolsel: Bolaang Mongondow Selatan; Brimob: Brigade Mobil; HAM: Hak Asasi Manusia; Kapolres: Kepala Kepolisian Resort; KPU: Komisi Pemilihan Umum; Pemilu: Pemilihan Umum; PNS: Pegawai Negeri Sipil; RS: Rumah Sakit; TKP: Tempat kejadian Perkara; dan TNI: Tentara Nasional Indonesia.

Jumat, 18 April 2014

Gelar Pahlawan untuk Tukang Tipu, Maling, Copet, dan Garong

HASIL PSU di TPS V Kelurahan Mongkonai, KK, Sabtu (12 April 2014), saya ketahui  di hari yang sama dari kabar yang tiba saat menghidupkan telepon di Bandara Soekarno-Hatta. Kendati turut bersuka sebab Caleg Nomor 9 PAN Dapil Kotamobagu Barat untuk DPR KK (yang memang secara pribadi dekat dengan saya), Anugrah Begie Chandra Gobel, meraih suara signifikan di TPS ini, saya tak langsung merespons informasi itu.

Lelah yang menggayuti punggung, berlanjutnya diskusi beberapa detil pekerjaan dengan Direktur Bisnis dan Administrasi A+ CSR Indonesia, Reza Ramayana (yang semobil dengan saya dari bandara ke rumah di Jakarta Selatan), ditambah menyempatkan diri mengunggah tulisan di blog ini, membuat saya baru mengontak adik-adik pada Minggu pagi (13 April 2014). Itu pun tidak spesifik tentang PSU, melainkan perkiraan hasil Pemilu di Dapil Kotamobagu Barat berdasar catatan yang  mereka himpun dari para relawan yang memantau perhitungan suara di TPS-TPS.

Kamis, 17 April 2014, di tengah perjalanan antara Balikpapan-Samarinda, BBM saya menerima protes dari seorang kawan jurnalis karena pekan lalu berada di Kotamobagu tapi menyembunyikan diri. Salah satu adik kandung saya bahkan bertanya, ‘’Ada di Mongkonai katu’ waktu PSU?’’ Mengingat saya bukan anggota komunitas hantu, jin, atau demit yang punya kemampuan berpindah tempat hanya sekejap mata, kebingunganlah yang menggantung di kepala.

Saya baru mengerti konteks protes dan pertanyaan itu setelah beberapa menit kemudian menerima pesan berisi tulisan Pitres Sombowadile, Hantu Sok Tahu Katamsi, yang tampaknya merespons Tragedi Kilah Akalbusyukus (Sabtu, 12 April 2014) dan Ideologi ‘’Salesman’’ Obat Cacing (Minggu, 13 April 2014) yang berturut saya unggah. Dengan tetap menjaga niat tak lagi memperpanjang debat tak bermutu dengan Pitres, saya menyimak tulisannya dan berhenti di bagian tuduhan pekan lalu saya (seolah-olah) berada di Kotamobagu dan sibuk dengan PSU di TPS V Kelurahan Mongkonai.

Saya sungguh iba dengan Pitres. Dia gelap mata dan tak mampu membungkus nafsu membabi-buta meruntuhkan kredibilitas saya, hingga memamah-biak informasi apa saja yang sekiranya dapat dijadikan senjata menyudutkan. Pit, sebagai orang yang pernah dianggap kawan (saya sendiri tetap menempatkan Pitres sebagaimana karib yang lain), saya sekadar mengingatkan: Tolong jangan persamakan saya dengan Anda yang terbiasa berdusta, manipulatif, senang mengklaim dan mengaku-ngaku, serta syur dengan duga-duga dan spekulasi.

Beberapa hari sebelum Pemilu hingga tulisan ini dibuat, hanya sesekali saya menengok urusan politik praktis. Saya tenggelam dengan pekerjaan yang mengharuskan menempuh perjalanan panjang dan menyita waktu, berpindah-pindah tempat dengan aneka moda transportasi. Dengan rendah hati saya mengakui, saya sedang disibukkan urusan perut, supaya tidak menadahkan tangan dan bergantung pada ‘’kebaikan hati’’ tuan dan puan politisi yang mesti di-services bahkan dengan menggadaikan harga diri dan ideologi.

Tak lama setelah BBM berisi tulisan Pitres, dua nomor telepon saya dibanjiri informasi yang sama, lengkap dengan dukungan agar bereaksi sama kerasnya. Tak hanya BBM dan SMS, beberapa kawan menelepon, termasuk yang pernah terlibat di Tabloid KABAR, menyampaikan pendapat dan komentar berkaitan dengan ‘’kekalapan’’ Pitres. Tanggapan saya pendek saja: ‘’Biar jo. Kita toh nyanda rugi apa-apa. Kalu karna Pitres pe tulisan lalu orang so nimau’ bergaul deng kita, trus apa depe masalah? Dia katu’ lagi cari makang.’’

Lagipula kalau mendiskreditkan saya membantu kawan mendapatkan gantungan hidup atau tetap dipekerjakan; tidak kehilangan ego dan kesombongan; tegak harga diri dan perasaan superior-nya, saya benar-benar telah mengikhlaskan. Saya sudah membuktikan Pitres memerlukan ‘’tanah air’’ di Mongondow dan dukungan orang-orang yang masih dapat dia kais simpati dan kekagumannya demi urusan asap dapur dan perut. Termasuk dengan berganti-ganti ‘’kulit’’ bagai bunglon. Selebihnya, tidak ada yang personal. Kalau dia kehilangan fokus lalu sibuk menyerang saya pribadi, orang boleh mengecek siapa yang punya teman abadi dan siapa yang tidak.

Percakapan via telepon dengan (saya terpaksa menyebut nama) Iverdixon Tinungki dan Reiner Ointoe, menyadarkan saya agar sekali lagi menulis ihwal polemik yang sudah jauh melenceng dengan Pitres. Namun, tulisan ini tidak ditujukan pada Pitres Sombowadile, melainkan sejumlah orang yang tahu duduk-soal yang dipercakapkan, yang dengan baik hati menyampaikan simpati terhadap saya.

Pertama, tentang penggunaan kata ‘’tragika’’. Tulisan yang menjadi isu bukanlah puisi atau sejenisnya. Pembaca yang paham berbahasa Indonesia yang baik dan benar, apalagi ahli bahasa (setidaknya mereka yang lulusan jurusan Bahasa Indonesia), tahu persis kebenaran koreksi saya. Bahwa ada pihak yang memaknai berbeda, urusan yang bersangkutanlah. Yang terang-benderang saja dikabur-kabur dan dibelit-belitkan, apalagi yang abu-abu dan samar.

Kedua, data, latar dan motif Pitres menulis PAN dan Tragika Yasti. Hasil survei yang dirilis lembaga-lembaga sigi (politik) sepanjang Januari hingga Maret 2014 sangat dinamis, berbeda, bahkan membingungkan kalangan awam. Tetapi seorang analis atau konsultan politik tentu punya pengetahuan dan kehati-hatian dalam mengkonklusi hasil survei. Lain soal kalau yang mengaku-ngaku itu ternyata sekadar keripik kentang.

LSI, misalnya, sebagaimana dikutip merdeka.com, Rabu (2 April 2014), berdasar survei 26-26 Maret 2014 di 33 provinsi menggunakan multistage random sampling dengan 1.200 responden, meramalkan PAN hanya mendapatkan 3,0 persen suara. Namun, 3,0 persen tidaklah benar tanpa mengindahkan ‘’peringatan’’ bahwa margin of error surveinya berada di kisaran 2,9. Artinya, 3,0 persen bisa berarti hanya 0,1 persen (yang jelas tidak masuk akal) atau justru 5,9 persen.

Pitres boleh berkelit dan berkilah dengan merujuk angka-angka lembaga survei mana pun. Tapi tak jujur mengemukakan margin of error, dia hanya menyampaikan sebagian kebenaran; sekaligus menyembunyikan kebenaran lain yang lebih mustahak dan penting bagi kesadaran politik khalayak. Dengan begitu analisisnya tentu cuma konsumsi tipu-tipu.

Sama dengan kepengecutan mengakui dia adalah tokoh utama tim pendukung Didi Moha saat menulis artikel ‘’mengecilkan’’ Yasti Soepredjo Mokoagow. Harus dinilai apakah perilaku seperti ini? Tokoh dengan kredibilitas dan integritas yang layak diberi dua jempol? Bila demikian adanya, sekalian saja kita beri gelar pahlawan pada para tukang tipu, maling, copet, dan garong.

Ketiga, saya baru tahu beberapa hal yang selama ini samar-samar tentang Tabloid KABAR. Tampaknya memang ada perbedaan ingatan antara fakta masa lalu dan apa yang dipercayai hari ini oleh satu orang. Ingatan saya –juga teman-teman lain yang berkontak dua hari terakhir—tidak ada yang berbeda. Contohnya, hanya ada tiga nama yang disepakati di akte institusi yang menerbitkan KABAR karena (sebagaimana alasan utama yang dikemukakan Pitres waktu itu) yayasan di mana tabloid ini berinduk ‘’terafiliasi’’ dengan gerakan gereja. Hal lain, mundurnya Reiner Ointoe (bersama Soewiryo Ismail) bukan karena saya; tetapi karena ada kutu busuk dalam pengelolaan manajemen dan keuangan.

Demi menghindari kesilapan, Jumat pagi (18 April 2014) saya sempat bertanya pada Reiner, apakah benar penyebab dia meninggalkan KABAR karena perbedaan pendapat teknis (keredaksian) dengan saya? Jawabannya, diiringi tawa lebar, ‘’Sapa yang bilang itu? Torang memang banyak berbeda pendapat. Bakalae lei. Tapi bukang itu depe soal.’’ Reiner juga mengkonfirmasi peristiwa di LBH Manado, di mana saya pernah dipersoalkan oleh sejumlah aktivis, bahwa memang semata karena kedekatan dengan seorang tokoh yang dianggap mengancam ‘’perjuangan’’ kelompok.

Selebihnya, saya enggan menggali-gali jasad dan hantu masa lalu. Bila orang-orang yang dulu pernah seiringan, berkarib dengan segala perbedaan pendapat dan laku didudukkan bersama-sama dan semua iblis-iblis yang dianggap sebagai ganjalan dibeber, saya yakin bukan saya yang malu dan kehilangan harga diri. Orang-orang yang disebut-sebut Pitres di seluruh tulisannya masih hidup, mudah dihubungi, dan tak akan menjadi pembela bila saya memang manipulator dan pembohong tak berintegritas.

Dan keempat, saya tak berminat berlebar-lebar ke urusan dengan pihak yang tak relevan seperti Bupati Bolmong Salihi Mokodongan atau institusi lain di mana saya dikait-kaitkan dan diulas oleh Pitres seolah-olah dia lebih tahu dan terlibat langsung (sebagaimana halusinasi saya terlibat mengurusi PSU di TPS V Mongkonai). Sikap saya sebagai orang Mongondow tegas dan diupayakan konsisten: Mengkritik yang pantas dicela, mengapresiasi yang layak diakui. Demikian pula, sebagai pribadi saya tak henti berikhtiar dengan kepala dingin dan akal sehat, sekali pun itu bertentangan dengan pendapat kawan seiring. Putusan pribadi ini tak akan dibuka di khalayak yang lebih luas kecuali orang per orang yang terkait langsung mengundang umum terlibat.

Saya merespek setiap orang, hubungan-hubungan dari masa lalu dan kini, dengan membedakan mana yang publik dan private. Mana yang layak diumbar dan mana yang sebaiknya ditutupi. Sebab itu, sekali pun mudah mengisahkan sisi-sisi gelap Pitres, saya membatasi hanya sampai di urusan yang terukur dan terkait dengan sepak terjang publiknya. Semoga saya tidak pernah tergelincir menjadi kalap, merongrong kredibilitasnya semata karena rivalitas yang tak perlu. Semata demi mempertahankan kepentingan sesaat, sesuatu yang rapuh, dan sumir.***

Singkatan dan Istilah yang Digunakan:

BBM: BlackBerry Messenger; Bolmong: Bolaang Mongondow; Caleg: Calon Legislatif; DPR: Dewan Perwakilan Rakyat; KK: Kota Kotamobagu; LBH: Lembaga Bantuan Hukum; LSI: Lingkaran Survei Indonesia; PAN: Partai Amanat Nasional; PSU: Pemungutan Suara Ulang; SMS: Short Message/Pesan Pendek; dan TPS: Tempat Pemugutan Suara.

Minggu, 13 April 2014

Ideologi ‘’Salesman’’ Obat Cacing

BEBERAPA menit jelang pukul 00.00 Wita, Sabtu (12 April 2014), BBM saya menerima rekaman suara dan rangkaian foto sangat menggelikan, meruapkan kantuk yang kental menggantungi kelopak mata. Rekaman dan gambar-gambar ini sejatinya dikirim sebagai respons terhadap tulisan Tragedi Kilah Akalbusyukus yang saya unggah kurang dari satu setengah jam sebelumnya.

Tak ada teka-teki sebab pengirimnya menyertakan keterangan. Semuanya (rekaman suara dan foto-foto) diambil di Boltim saat pertemuan dan pengukuhan tim pendukung pemenangan Caleg PG Dapil Sulut untuk DPR RI, Didi Moha.

Mendengarkan rekaman suara yang dikirim itu, tawa saya meledak. Oh, rupanya anggota tim pemenangan dikukuhkan dengan mengucapkan janji yang langsung dipimpin Didi. Sungguh sangat ‘’djaman doeloe’’ dan sontak mengingatkan saya pada upacara-upacara sejenis ketika mantan Bupati Marlina Moha-Siahaan memimpin Bolmong.

Di masa itu bahkan lebih ‘’seram’’ lagi sebab PNS yang dipromosi tidak sekadar mengucapkan sumpah jabatan. Mereka juga wajib melewati ritual bai’at pengikat loyalitasnya pada Bupati.

Bahkan setelah lebih 15 tahun Orba tumbang, praktek-praktek politik mirip sekte keagamaan yang menghina akal sehat dan miskin imajinasi masih dilestarikan. Alih-alih menggugah kesadaran dengan visi, misi, dan ide-ide besar, yang dilakukan adalah upacara yang tak beda dengan konser bebek. Terlebih, konduktornya tak lain dan tak bukan adalah Pitres Sombowadile.

Sama seperti rekaman suara, foto-foto yang saya terima sama kocaknya. Selain bagi-bagi amplop yang semestinya layak jadi bukti politik uang (tapi percuma mengingat Panwaslu di Mongondow tampaknya diseleksi dari golongan picek, tuli, dan terkebelakang), serangkaian frame itu bagai menendang jidat saya. Dari Pitres ber-polo shirt tengah bercakap-cakap dengan Didi Moha; Pitres menggunakan kemeja kuning berlambang PG; hingga Pitres dengan kemeja yang sama –ternyata dihiasi gambar wajah Didi di sisi kanan—tengah memberikan presentasi.

Lalu mendadak saya merasa bersalah karena sejak Rabu, 2 April 2014, telah mengunggah tiga tulisan yang mengkritisi Pitres dan apa yang dia lakukan di Bolmong Raya, khususnya berkaitan dengan kampanye Pemilu 2014 dan persaingan politik antara anggota DPR RI berlatar Mongondow, Didi Moha dan Yasti Soepredjo Mokoagow yang berasal dari PAN. Andai rekaman suara dan foto-foto itu diterima jauh hari sebelumnya, saya tidak akan pernah menulis apapun tentang Pitres, utamanya yang berkaitan dengan motif dan kepentingannya menulis PAN dan Tragika Yasti.

Begini, pembaca, yang terindah dari pertemanan adalah selalu menempatkan seorang kawan sebagaimana keinginannya dipersepsi oleh para karib dan umum yang lebih luas. Pitres yang saya kenal berpuluh tahun tak henti memelihara dan meyakinkan orang banyak bahwa dia adalah sosok dengan ideologi tegas: Seorang pemikir cerdas yang independen; kukuh dan lurus dalam sikap; berani dan teguh membela yang benar –sekaligus pantang mundur di hadapan yang bathil--; serta berpihak pada akal sehat dan kepentingan publik. Pendek kata, ideologinya adalah jalan lurus orang-orang terhormat.

Pitres mengekspresikan ideologi yang dia anut dengan sikap yang seolah-olah tampa kompromi. Setidaknya itu yang diperlihatkan di hadapan saya dan kebanyakan orang yang mengenal dekat dia. Dan saya mengaminkan tanpa reserve. Dalam pertemanan, saya hanya mengenal dua hal: Jika percaya, maka 100 persen percaya. Bila tidak, maka mesti 100 persen tidak percaya pula.

Kepercayaan itulah yang digoyahkan oleh rangkaian foto bagi-bagi amplop di depan mata Pitres serta persulihannya dari polo shirt ke uniform kuning berlambang PG, berhias foto Didi Moha. Bagaimana mungkin kawan yang dengan gagah-berani menuding banalisme praktek politik uang, yang mewartakan demokrasi sebagai jalan suci berbangsa dan bernegara, membiarkan perilaku itu lalang-lalang di depan hidungnya? Bahkan dia sendiri turut serta di dalamnya.

Bagaimana saya tak terpukul melihat foto-foto kawan yang selalu mengaku melawan tirani Soeharto dan alat-alatnya, sekarang dengan sukarela mengenakan pakaian dengan lambang yang identik dengan salah satu ‘’kanon’’ kekuasaan Orba? Bagaimana pula saya mempertahankan keyakinan bahwa Pitres adalah pemikir yang ideologis, bukan sekadar tukang atau salesman yang terpaksa menjaja produk yang bertolak belakang dengan nilai-nilai anutannya, sebab perut dan kepentingan hidup jauh lebih penting dibanding nilai-nilai luhur?

Hati kecil dan kewarasan saya menolak mempercayai seorang Pitres Sombowadile kini menggadaikan segala yang dia khotbahkan hanya demi kepentingan jangka pandek. Saya tidak mempercayai dia telah berubah menjadi sekadar event organizer atau penjual produk yang setiap saat berganti tampilan demi kepentingan klien. Sungguh, tak pernah terlintas di benak membayangkan hari ini dia berdandan dengan pakaian bergambar obat cacing karena produk inilah yang sedang dijajakan; besok shampoo anti ketombe sebab kliennya adalah produsen consumer goods; dan lusa pil diare demi memuaskan perusahaan farmasi yang diurusi

Yang saya pahami, dengan ideologi yang dianut sungguh-sungguh, seorang pemikir, cendekiawan, intelektual, atau apapun sebutan yang disematkan, semestinya seperti ikan di samudera. Air laut yang asin tidak mengubah warna dan rasa seekor ikan, semata-mata karena dia berenang dan berkubang garam.

Bertolak belakang dengan pikiran-pikiran saya yang biasanya radikal dan tak mau tahu, kali ini saya menolak mengubah persepsi yang terbentuk bertahun-tahun terhadap Pitres. Sekali pun faktanya sama sekali berbeda dengan kekinian. Tersebab itu, setelah tulisan ini, saya berhenti menyahuti dia. Kalau mengecilkan Yasti efektif sebagai cara Pitres menjajakan produknya, saya berharap yang menjadi obyek tidak berkecil hati. Demikian pula, bila menyerang saya dengan fakta-fakta yang dimanipulasi dan dikaburkan menolong apa yang sekarang dia tekuni, dengan kerendahan hati saya ikhlaskan dan persilahkan.

Bila yang disiarkan Pitres berkaitan dengan saya berdampak buruk, siapa yang hirau? Saya tidak memerlukan barisan pengikut yang memuja-muja atau dipaksa terkagum-kagum terhadap retorika, heroisme, dan klaim kejagoan. Kepentingan saya setiap kali berada di Mongondow sederhana belaka: reriuangan dengan majelis Kopi Jarod; diskusi dan debat di persamuhan bebek pedas; dan berbual-bual dengan kalangan terdekat. Selebihnya, menjelajahi Bolmong Raya dengan jeans dan t-shirt bertulis aneka-rupa, sesuka suasana hati saya.***

Singkatan dan Istilah yang Digunakan:

BBM: BlackBerry Messenger; Bolmong: Bolaang Mongondow; Boltim: Bolaang Mongondow Timur; Caleg: Calon Legislatif; Dapil: Daerah Pemilihan; DPR: Dewan Perwakilan Rakyat; Orba: Orde Baru; PAN: Partai Amanat Nasional; Pemilu: Pemilihan Umum; PG: Partai Golkar; PNS: Pengawai Negeri Sipil; RI: Republik Indonesia; Sulut: Sulawesi Utara; dan Wita: Waktu Indonesia Tengah.