Palas

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Balai Pustaka, 2005, mencantumkan: kro.nik n catatan peristiwa menurut urutan waktu kejadiannya; susunan waktu; yang berhubungan dengan waktu. Sedang Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI), Balai Pustaka, 2006, menjelaskan: kronik E cerita yang meriwayatkan suatu peristiwa tersusun menurut waktu terjadinya.

Foto-Foto: Internet

Jumat, 23 September 2016

Filosofi Kucing dan Kucing Garong

DI LAPANGAN Molinow, Selasa, 17 Mei 2016, Sehan Landjar naik podium menyampaikan pidato pengukuhannya sebagai Ketua DPW PAN Sulut 2016-2021. Sebagaimana biasa, Eyang--demikian dia akrab disapa--adalah orator piawai dan memukau. Dia meneguhkan sikap, visi, dan misi kepemimpinannya, yang sekejap membuat semua orang tak ragu menjadikan ''Rumah PAN'' sebagai pilihan politik.

Dari kejauhan, satu hari berselang, saya menyimak dengan haru isi pidato Eyang. Saya tak ragu pula meng-amin-kan filosofi kucing yang, menurut dia, menjadi nafas dan urat nadi kepemimpinan sebagai Ketua DPW. Menurut Eyang, sebagaimana yang dinukil totabuan.co (Selasa, 17 Mei 2016), Sehan Landjar Layangkan Kata ‘Sindiran’ Saat Sambutan (http://totabuan.co/2016/05/sehan-landjar-layangkan-kata-sindiran-saat-sambutan): ''Lihatlah seperti kucing. Meski tuan rumah berganti-ganti, akan tetapi dia tetap setia berada di rumah. Jangan seperti Anjing. Hanya selalu suka kepada tuannya saja dan rela meninggalkan rumah.''

Eyang tentu hendak membicarakan kucing rumahan yang dipelihara dengan telaten. Disediakan keranjang tidur beralas blanket empuk, makanan kualitas terbaik, mainan bola-bola benang (yang sangat digilai semua jenis pus), tempat pup dari pasir terpilih, dan jika perlu disalonkan supaya bulunya lembut mengkilap. Anjing yang dia bahas juga bukan yang sekadar dipelihara sebagai tukang gonggong, tetapi yang dirawat dan disediakan segala kebutuhannya, termasuk rutin diajak berjalan-jalan setiap pagi dan sore. Yang tak alpa menemani tuannya mulai dari nonton tivi, bertandas, hingga ngorok dalam lelap.

Dia pasti tak memaksudkan filosofi kucing itu untuk jenis kucing garong (terlebih yang garang pula). Kucing yang dipungut begitu saja dari jalanan ketika mengais-ngais tong sampah. Yang mesti tunduk bersyukur sebab diberi kehangatan sebuah rumah. Yang tidur di sofa sebelum ditendang turun. Yang makan tulang dan sisa kudapan tuannya. Yang berak sembari menggali tirisan air. Yang hanya punya mainan tikus mati sebelum dijadikan santapan.

Para penggemar kucing tahu persis, kucing garong tetaplah kucing garong. Dirawat dan diperlakukan seperti apapun tidaklah memapas punah insting alamiahnya. Sudah punya rumah, tapi tetap kerap doyan mengorek-ngorek tong sampah atau diam-diam menyusup ke dapur tetangga, menciptakan pertengkaran, sebab ikan asin garo rica yang tersaji hanya meninggalkan rica-nya saja.

Anjing yang ditunjuk bukan pula jenis kurapan yang pasrah ditendang dan diperanjing-anjing. Yang menggonggongi apa saja, termasuk semua bayangan dan sinar bulan. Yang memprovokasi tetangga menyiapkan racun supaya kehidupannya tenteram kembali bersama tewasnya ''si sialan perusak ketenangan''.

Pokoknya, pidato Eyang di pelantikannya sebagai Ketua DPW PAN Sulut berkualitas ''top''. Juga, menurut saya, bukan sindiran sebagaimana judul yang disematkan totabuan.co. Ini media doyannya kok memprovokasi. Saya yakin, apa yang dimaksudkan Eyang dengan filolofi kucing-nya, tak lain adalah isyarat rekonsiliasi dan undangan perguyuban dari samua kader PAN di Sulut, agar berhimpun di rumah yang sama, berbagi keranjang dan blanket, makanan, mainan, tempat pup, dan salon yang sama.

Kucing rumah tidak bakal cakar-cakaran di antara sesamanya. Bahkan mereka akan kompak jika ada kucing garong yang tiba-tiba mengintervensi rumah bersamanya. Dan Eyang terlalu jernih dan jelas untuk disalahartikan. DPW PAN Sulut yang dia pimpin adalah rumah buat kucing yang menjadi teman, bukan tempat kucing garong: para pengorek tong sampah serta pencuri ikan di meja sendiri dan di bawah tudung saji tetangga.

Sejujurnya, saya meluputkan ingatan terhadap pidato filosofi kucing itu di tengah meningginya suhu politik Pilkada Bolmong 2017, yang ditandai pendaftaran bakal Cabup-Cawabup, Rabu, 21 September 2016. Untung seorang kawan mengirimkan kembali tautan isi pidato itu, yang sekaligus menyelamatkan saya dari silap.

Kealpaan saya itu tak beda dengan kekeliruan ketika mencela Marsaole Mamonto pada Sabtu, 4 April 2015, lewat unggahan Eyang: Dari ''Darling'' ke ''Ayu Ting Ting''.  Saudara Marsaole, lewat tulisan ini izinkan saya meminta maaf. Bahwa ternyata Anda benar ketika dikutip oleh Harian Sindo Manado, Selasa, 31 Maret 2015 (Eyang Kans Gantikan Tatong), sebab sejarah politik kontemporer Sulut kemudian membuktikan Eyang sukses ditunjuk menjadi Ketua DPW PAN. Supaya tak kehilangan muka, perbolehkanlah pula saya berkilah, bahwa PAN memang partai yang melahirkan banyak keajaiban dalam keputusan politiknya. Termasuk yang paling tidak dijangkau logika dan nalar politik normal.

Demi menjaga Eyang tak terperosok pada alpa dan silap, melihat manuver politiknya yang bersikukuh mendukung SBM-JT, alih-alih YSM-YT yang resmi dicalonkan (antaranya) oleh PAN di Pilkada Bolmong 2017, saya terpaksa mesti mengingatkan dia terhadap tekad mempraktekkan filosofi kucing di Rumah PAN Sulut yang dipimpinnya. Kemanakah ingatan itu, Eyang, ketika Rumah Besar DPP PAN sudah memutuskan YSM-YT sebagai menu utama dan Anda justru melompat ke dapur tetangga?

Apakah unggahan totabuannews.com, Kamis, 22 September 2016, SBM-JiTu, The Power Of People ! Eyang, MMS, Djelantik dan ADM Masuk Tim Pemenangan (https://totabuanews.com/2016/09/sbm-jitu-power-people-eyang-mms-djelantik-dan-adm-masuk-tim-pemenangan) sekadar bual-bual wartawan? Atau Sehan: Saya Tidak Wajib Dukung Yasti yang dirilis kabarbmr.com, Rabu, 21 September 2016 (http://www.kabarbmr.com/2016/09/21/sehan-saya-tidak-wajib-dukung-yasti/) cuma kabar burung yang dikemas seolah-olah fakta?

Bolehkah saya mengingatkan, bukankah kucing yang benar-benar mencintai rumahnya tidak akan melepeh makanan jenis apa yang disajikan tuannya? Kalau pun santapan itu bikin buluh rontok, perut kembung, atau demam kucing,  percaya saja: di rumah yang benar-benar mencintai kucing tersedia aneka jenis obat untuk penyakit kucing. Bahkan kucing cacingan dan sekarat pun bakal selamat, dengan mudah dan sekejap sehat wal afiat, karena dapat dipastikan dirawat hingga bugar.

Sebab, masak iya filosofi kucing yang Eyang maksudkan termasuk kucing  garong, yang cuma dipungut di selokan dan akhirnya bikin malu,  karena sekali pun telah kenyang di rumah sendiri, masih pula mengutil dapur dan meja tetangga? Apa tidak memalukan jika nasib kucing paling besar dari Rumah PAN DPW Sulut berakhir hanya sebagai sasaran gebuk tangkai sapu tuan rumah sendiri dan para tetangga?

Dan yang terpenting, jangan lupa, nasib kucing garong biasanya selalu kembali ke selokan atau tong sampah, dengan bulu-bulu kusut dan kumis lunglai.***

Singkatan dan Istilah yang Digunakan:

Bolmong: Bolaang Mongondow; Cabup: Calon Bupati; Cawabup: Calon Wakil Bupati; DPP: Dewan Pengurus Pusat; DPW: Dewan Pimpinan Wilayah; PAN: Partai Amanat Nasional; Pilkada: Pemilihan Kepala Daerah; SBM-JT: Salihi B. Mokodongan-Jefry Tumelap; Sulut: Sulawesi Utara; dan YSM-JT: Yasti Soperedjo Mokoagow-Yani Tuuk.

Kamis, 22 September 2016

''Ta Mo-soe Ow'' dan Lawak Politik Eyang

SAYA menulis artikel ini sembari membayangkan senyum usil--biasanya diiringi ''hi hi hi...'' lepas--Ketua DPW PAN Sulut, Sehan Landjar. Pasang naik Pilkada Bolmong 2017 yang ditandai mendaftarnya pasangan Cabup-Cawabup, Yasti Soepredjo Mokoagow-Yani Tuuk, mau tidak mau segera menempatkan politikus yang akrab disapa Eyang ini di tengah pusarannya.

Pengusung YSM-YT adalah PDIP, PAN, PKB, PKS, dan Nasdem. Koalisi ini seperti mengulang Pilkada Bolmong 2011 (ketika itu mengusung Salihi Mokodongan-Yani Tuuk) dengan penambahan PKB dan Nasdem. Komposisi pasangannya juga sama: Cabup dari PAN, Cawabup dari PDIP. Bedanya, kali ini bukan PAN (yang hanya meraih lima kursi di Pemilu 2014) yang menjadi lokomotif, melainkan PDIP (dengan delapan kursi DPRD Bolmong). Beda yang lain, di Pilkada 2017 ini--setidaknya yang marak diumbar media--penunjukkan Cabup yang diusung PAN justru berseberangan dengan sikap Ketua DPW.

Rumor yang berkesiuran menyebutkan, penolakan Eyang terhadap pen-Cabup-an YSM bahkan disertai pernyataan, jika itu terjadi, dia akan mengembalikan atribut partai ke DPP PAN. Yang terkini, ditengah masih simpang-siurnya kepastian pencalonan pasangan Salihi B. Mokodongan-Jefry Tumelap, Harian Media Totabuan (Kamis, 22 September 2016) justru memajang maklumat Eyang Siap Menangkan SBM-JiTu.

Pilkada Bolmong yang semestinya menjadi pertarungan antar pasangan Cabup-Cawabup dan pengusungnya (parpol pengusung dan dan tokoh-tokohnya) dengan pasangan lawan (lengkap dengan parpol pengusung, juga tokoh-tokohnya), lewat manuver Eyang tampak tereduksi menjadi hanya pertempuran antar tokoh dan kelompok di tubuh PAN. Lalu, kita pun seperti deja vu, bernostalgi dan terpaksa menengok kembali Pilkada Boltim 2015 lalu.

Mari saya ringkas pertempuran politik Pilkada Boltim 2015: Ketika itu, alih-alih mendukung Cabup-Cawabup Sahrul Mamonto (Ketua DPD PAN Boltim)-Medi Lensung (petahana Wabup dari PDIP), DPP PAN justru merestui pasangan Sehan Landjar-Rusdi Gumalangit. Tidak jelas benar apa alasan di balik keputusan DPP PAN. Yang pasti, Eyang terpilih untuk masa jabatan kedua dan segera berkibar menjadi tokoh kuat baru di PAN Sulut, bahkan dalam waktu singkat ditunjuk pula menjadi Ketua DPW. YSM, Tatong Bara (Walikota KK yang juga mantan Ketua DPW PAN Sulut), dan kelompoknya yang bersikukuh mendukung Sachrul Mamonto, tak pelak harus minggir jauh-jauh. The winner takes it all!

Tapi bandul politik memang mudah berubah. Apalagi tidaklah gampang menyingkirkan tokoh sekualitas YSM, politikus pertama PAN yang berhasil membawa partai ini punya kursi dari Sulut di DPR RI pada Pemilu 2009. Bukan sepele pula meniadakan rekam jejak Tatong Bara sebagai Ketua DPW PAN yang berhasil menambah kursi partai ini di DPRD Provinsi dan DPRD Kota/Kabupaten di Sulut.

Keputusan DPP PAN mencalonkan YSM-YT yang bersamaan dengan penunjukkan Tatong Bara sebagai Ketua Bappilu Nasional PAN, adalah tamparan buat Eyang (dan kelompoknya). Peringatan bahwa ''bulan madu kemenangan'' bisa berakhir cepat setelah semua orang tersadar dari euforia sesaat. Bahwa pada akhirnya ada rekam-jejak dan investasi politik-sosial-ekonomi-budaya yang harus dihitung dari setiap tokoh dan politikus.

Dibanding para politikus elit BMR umumnya, Eyang adalah pengecualian. Dia bintang yang sekejap meroket. Dari politikus gagal meraih kursi di DPRD Provinsi Gorontalo pada Pemilu 2009, menjadi Bupati Boltim di Pilkada 2010, dan media darling yang sepak terjang dan omongannya laris-manis dikutip. Tapi siapa yang  mengenal Eyang di BMR sebelum 2010, kecuali kerabat, kawan, dan kenalan dekatnya di tempat lahir, Desa Togid, dan sekitarnya?

Berbanding terbalik dengan YSM, yang merintis aktivitas sosial (kemudian politik) dari zaman PT di FISIP Unsrat. Setapak demi setapak YSM meraih karir politik di PAN, mulai dari deklarasi partai ini di Sulut sampai mencapai kursi anggota DPR RI.

Hingga Pilkada Boltim 2015 dan terpilih kembalinya Eyang sebagai Bupati, orang banyak mengkonklusi, politikus dengan talenta alamiah dan hasil godokan praktis telah dengan telak membabat praktisi karir seperti YSM, sampai keadaan seketika berbalik. Untuk sementara, dengan sekali tepuk YSM bukan hanya hanya melunasi kemenangan Eyang di Pilkada dan ditunjuknya dia sebagai Ketua DPW PAN Sulut, tetapi juga melampaui lewat penunjukan Tatong Bara sebagai Ketua Bappilu Nasional. Suka atau tidak, wewenang dan pengaruh Tatong (sebagai bagian dari ''kelompok YSM'' di PAN) lebih kuat dan berdaya dibanding sekadar Ketua DPW.

Skor sementara (dan mungkin bertahan cukup lama) adalah 2-0 untuk YSM dan kelompoknya melawan Eyang dan kelompoknya. Posisi ini bakal lebih buruk lagi, menjadi 7-0, jika Eyang benar-benar WO dengan mengembalikan atribut partai (dan artinya mundur dari Ketua DPW), terlebih lagi jika dia sungguh-sungguh berdiri di depan proses pemenangan SBM-JT.  

Tapi, bagi yang mengenal Eyang luar-dalam, situasi politik permukaan itu bukanlah fakta sesungguhnya. Bahwa posisi politik dan publiknya sedang berada di titik (meminjam ujaran yang populer di kalangan masyarat Buyat, Boltim, yang kerap dikutip Eyang), ''ta mo-soe ow'' (dengan ''o'' panjang), justru akan memicu kreativitas, kenakalan, dan keusilannya. Bukan Eyang jika menyerah begitu saja. Dan terlampau dungu pula para pesaingnya jika menganggap keterpojokan politik dengan mudah membuat dia menyerah.

Kreativitas, kenakalan, dan keusilan itu pula, yang biasanya ditandai dengan ''senyum gaya tertentu diiringi kikik khas lepasnya'' segera tergambar di benak saya tatkala membayangkan bagaimana Eyang bersiasat keluar dari kepelikan politik Pilkada Bolmong 2017. Ihwal senyum ini, percayalah, hanya mereka yang benar-benar memahami dia yang mampu menafsir ''situasi bathin seperti apa'' yang diekspresikan Sehan Landjar''.

Senyum plastik dan fotografi seperti yang banyak beredar di media, berarti ''sekadar menyenangkan siapapun yang ada di depan dan samping kiri-kanan''. Senyum serius, mesti diterjemahkan sebagai ''untuk sementara akan diingat dan setelah itu lalu bersama angin''. Senyum basa-basi, tafsirnya tak jauh dari ''saya sudah bosan dan capek''. Tapi tidak dengan senyum diiringi ''hi hi hi...'', yang pasti menunjukkan orisinalitasnya:  kreatif, nakal, usil, dan tak peduli.

Saya kira, pernyataan-pernyataan yang dikemukakan Eyang (utamanya yang dikutip media) berkenaan dengan Pilkada Bolmong 2017, disertai dengan senyum serius. Apapun itu, cuma sementara dan akan segera terlupa. Sebab jika Eyang benar-benar hengkang dari PAN atau serius berseberangan dengan YSM dan kelompoknya, dia mesti menghitung kembali rencana-rencana politiknya di masa datang. Eyang barangkali cukup hebat di Boltim, tetapi dia bakal dengan gampang dipencet di tingkat BMR. Apalagi jika dikeroyok barisan tokoh dan politikus yang kini sedang berada di puncak prestasi.

Eyang bukan lone ranger yang mampu memenangkan pertempuran sendirian atau ke medan laga dengan hanya didukung kuda tua dan sepasukan kodok kento'. Terlebih, saya kira, dengan catatan dan rekaman panjang publik terhadap sepak terjangnya, hampir 80% masyarakat di BMR memaknai pernyataan-pernyataan terkini Eyang sekadar bakusedu, 19% menafsir sebagai ''ancaman politik'', dan cuma 1% (barangkali termasuk Eyang sendiri, itu pun kalau dalam kondisi tensi tinggi) sebagai ucapan serius.

Kerena cuma bakusedu, disertai sayang dan respek, sebagai karib, dengan tawa lebar saya mengomentari jurus politik terkini Eyang itu dengan mengutip komentar kawan dari Kopandakan (tempat lahir Ibu kandung saya), bahwa: ''Lawak bi' tua.'' Saya haqqul yaqin, terhadap komentar ini, Eyang bakal tersenyum (usil) dan ber-hi hi hi... lepas.***

Singkatan dan Istilah yang Digunakan:

Bappilu: Badan Pemenangan Pemilu; Bolmong: Bolaang Mongondow; Boltim: Bolaang Mongondow Timur; BMR: Bolaang Mongondow Raya; Cabup: Calon Bupati; Cawabup: Calon Wakil Bupati; DPD: Dewan Pimpinan Daerah; DPP: Dewan Pimpinan Pusat; DPRD: Dewan Perwakilan rakyat Daerah; DPR RI: Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia; DPW: Dewan Pimpinan Wilayah; FISIP: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik; PAN: Partai Amanat Nasional; PDIP: Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan; Pemilu: Pemilihan Umum; PKB: Partai Kebangkitan Bangsa; PKS: Partai Keadilan Sejahtera; PT: Perguruan Tinggi; Nasdem: Nasional Demokrat; SBM-JT: Salihi B. Mokodongan-Jefry Tumelap; Sulut: Sulawesi Utara; Unsrat: Universitas Sam Ratulangi; Wabup: Wakil Bupati; WO: Walk Out; dan YSM-YT: Yasti Soepredjo Mokoagow-Yani Tuuk.

Selasa, 20 September 2016

Iktibar Politik Praktis di Bolmong

YASTI SOEPREDJO MOKOAGOW-YANI TUUK (YSM-YT) dipastikan diusung sebagai pasangan Cabup-Cawabup Bolmong 2017-2022. Tidak itu saja. Media lokal Sulut dan BMR--terutama cetak, elekronik, dan sosial--hari ini, Selasa, 20 September 2016, diruahi prediksi ''sangat dimungkinkan'' Pilkada Bolmong 2017 hanya diikuti pasangan tunggal.

Saya hanya ber-he he he menerima banyak kabar terkini dinamika Pilkada Bolmong itu. Bagi kebanyakan orang, terlebih yang capek dan mual terpapar aneka baliho dan kampanye para kandidat yang marak sejak beberapa bulan terakhir, kepastian diusungnya YSM-YT adalah kejutan tak disangka. Apalagi kemudian diimbuhi ''kemungkinan calon tunggal''.

Pasangan Cabup-Cawabup yang diusung partai  peraih delapan kursi, PDIP, dan (kemungkinan) hampir seluruh parpol yang memiliki kursi  di DPRD Bolmong itu, boleh dibilang sepi sosialisasi. Bahkan utamanya YSM, jangankan baliho sosialisasi, mencalonkan diri sebagai Cabup pun hampir tak pernah diwacanakan di antara pikuk koar-koar, silat, dan adu pesona mereka yang jauh-jauh hari menggadang diri jadi kandidat.

Apakah benar diusungnya YSM-YT adalah benar-benar kejutan? Dari perspektif ''politik praktis permukaan'' tampaknya demikian. Namun, jika ditelaah lebih dalam, cermat, dan komprehensif, pasangan ini adalah keniscayaan yang normal untuk politik praktis yang cerdas, efektif, efisien, dan tepat bagi kondisi BMR secara umum dan Bolmong khususnya.

Dengan kata lain, untuk sekadar ''kurang ajar'' dan ba terek, saya ingin bilang: Para wartawan, praktisi politik, dan pengamat yang berbulan-bulan terakhir mewacanakan Pilkada Bolmong, sekadar membual  dengan referensi yang semata-mata dipetik begitu saja dari pohon gora. Demikian pula, para kandidat pengharap menjual diri mereka barangkali dengan panduan petunjuk cuci pakaian dari kotak sabun bubuk, bukan kalkulasi modal politik-sosial-ekonomi-dan budaya yang solid dan terukur.

Bahkan ketika situasi telah terang-benderang, sebagian mereka yang melibatkan diri dalam riuh Pilkada Bolmong menolak untuk menyadari bahwa pesta demokrasi ini sesungguhnya telah melampaui puncak persaingannya. Bahwa, bila tokoh-tokoh papan atas dan pusat politik praktis di Bolmong menghitung kembali, dengan kepala dingin pasangan YSM-YT bukan hanya menjawab kebutuhan faktual politik dan birokrasi, tetapi juga jalan tengah yang menguntungkan semua pihak.

Pertama, pencalon-(apalagi)tunggalan YSM-YT adalah kabar baik bagi politik praktis di Bolmong yang bagai tersandera politikus veteran dan itu-itu juga; mereka yang mentalitasnya medioker semata; atau yang terlampau tinggi menakar kapasitas dan kapabilitasnya. Saya tidak bermaksud mengecilkan tokoh seperti Djelantik Mokodompit atau Limi Mokodompit yang kalah di Pilkada terakhir yang mereka ikuti dan masih berambisi meraih kursi Bupati Bolmong 2017-2022. Apa tidak ada hobi atau kebisaan lain yang bisa menyibukkan mereka? Saya terheran-heran dengan PG atau PD yang belakangan (setidaknya di media) hanya puas menyasar kursi Cawabup. Demikian pula dengan petahana Salihi Mokodongan yang masih bersikukuh mencalonkan diri dan pendatang baru Sukron Mamonto yang mendadak mati-matian diasongkan oleh sejumlah orang.

Jika jabatan publik seperti Bupati-Wabup adalah akumulasi dari tabungan politik-sosial-ekonomi-budaya, kita bisa melihat bahwa pasangan YSM-YT tidak terbantahkan jauh melampaui para pesaingnya. Sebagai anggota DPR RI, selama dua periode jabatannya, YSM menunjukkan konsisten berpihak pada kepentingan BMR. Akan halnya YT, selama menjadi Wabup Bolmong 2011-2017, dia menunjukkan kesadaran terhadap posisi, fungsi, dan tanggung jawabnya. Orang banyak di Bolmong tahu persis, kendati punya peluang menyalip Bupati (terlebih partainya menjadi mayoritas di DPRD Bolmong) selama masa kepemimpinan mereka, Wabup tak pernah sekali pun melangkah keluar dari batas demarkasinya.

Kedua, sebab faktor pertama, jika parpol-parpol menengah dan kecil sependapat mencalonkan YSM-YT (dengan konsekwensi mereka adalah calon tunggal), selain meneduhkan tensi politik di jangka pendek, di jangka panjang justru menguntungkan karena memberikan kesempatan pematangan kualitas tokoh-tokoh yang kini baru bermunculan dan sebenarnya sekadar menguji seberapa besar modal politik dan sosial mereka di tengah konstituen.

Di periode setelah 2022, cukup waktu bagi PG, PD, Gerindra, dan Nasdem menyediakan tokoh-tokoh baru yang mampu menyaingi YSM. Bahkan, jika hanya menyasar posisi Wabup, peluang politikus seperti Jefry Tumelap (PD) terbuka lebar. Setelah YT (yang pasti tak bisa lagi mencalonkan diri sebagai Wabup), di masa datang dia adalah tokoh kuat dari Dumoga yang diharapkan memainkan peran lebih strategis.

Dan ketiga, diusungnya YSM oleh PDIP adalah sinyal rekonsialisasi yang lembut dan manis untuk internal parpol asalnya, PAN; contoh politik lapang dada bagi parpol yang lain; dan tawaran keseimbangan baru politik di Bolmong yang lebih akomodatif dan guyub.

Kita semua tahu, setelah Pilkada Boltim 2015, bandul rezim kekuasan di PAN Sulut dan BMR bergeser dari YSM-Tatong Bara ke Sehan Landjar-Jainuddin Damopolii-dan kelompoknya. Bukan rahasia lagi hubungan di antara dua faksi internal PAN ini terus-menerus berada di atas titik didih. Dengan dicalonkannya YSM dan PAN bergabung mendukung, terbuka lebar rekonsiliasi di antara dua faksi besar ini. Tanpa harus mengorbankan ego dan kebangaan salah satu pihak.

Bagi parpol yang lain, dengan melihat konstelasi lebih besar, misalnya PG dengan kepentingannya tetap mengusung Aditya Moha di DPR RI, persaingan memperebutkan konstituen menjadi lebih ringan. Aspek ini juga pantas dilirik parpol peraih suara signifikan lainnya seperti Gerindra dan PD. Sebab, sejujurnya, setelah YSM, kecuali Sehan Landjar turun langsung ke gelangang, kursi DPR RI yang mereka miliki hampri pasti akan terlepas.

Dan dengan ditumpahkannya dukungan seluruh parpol ke pasangan tunggal YSM-YT, serta mengingat PDIP-lah yang menjadi lokomotif (yang dengan penuh kerelaan hanya mengambil Wabup sebagai kompensasinya), mereka memikul tanggung jawab dan kewajiban moral bersikap adil dan akomodatif. Posisi yang saling melengkapi ini, bila direnungkan dengan kepala dingin dan demi kemaslahatan semua pihak--terutama masyarakat Bolmong--, barangkali adalah yang pertama dan menjadi terobosan politik tidak hanya di BMR.

Tentu alangkah bodoh, egois, dan buta-tulinya kita jika mengabaikan begitu saja peluang melahirkan sejarah politik praktis seperti itu.***

Singkatan dan Istilah yang Digunakan:

BMR: Bolaang Mongondow Raya; Bolmong: Bolaang Mongondow; Cabup: Calon Bupati; Cawabup: Calon Wakil Bupati; DPRD: Dewan Perwakilan Rakyat Daerah; DPR RI: Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia; Gerindra: Gerakan Indonesia Raya; Nasdem: Nasional Demokrat; PAN: Partai Amanat Nasional; Parpol: Partai Politik; PD: Partai Demokrat; PDIP: Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan; PG: Partai Golkar; Pilkada: Pemilihan Kepala Daerah; Sulut: Sulawesi Utara; Wabup: Wakil Bupati; dan YSM-YT: Yasti Soepredjo Mokoagow-Yani Tuuk.