DUGAAN pelecehan profesi wartawan oleh Olden Wein Kakalang, yang berpinak
dilaporkannya saya atas dugaan pencemaran nama baik ke Polres Bolmong oleh
Ketua PWI KK, Audy Kerap, tampaknya mulai tak lucu lagi. Pemberitaan tiga situs
berita, Jumat, 21 Oktober 2016, berkenaan dengan isu ini membuktikan memang ada
(jumlahnya tak sedikit) wartawan yang dungunya minta ampun dan situs berita
yang dikelola seperti selebaran gelap di BMR.
Tersebab saya sudah capek mengajari mereka
yang mengaku wartawan tapi ternyata berotak tumpul, pembaca silakan simak dan nilai
sendiri publikasi di detotabuan.com
(http://detotabuan.com/2016/10/21/pemilik-blog-kronik-mongondow-dilaporkan-ke-mapolres-bolmong/),
bmrpost.com
(http://www.bmrpost.com/2016/10/pemilik-blog-kronik-mongondow-dipolisikan/),
dan kotamobagupost.com
(http://kotamobagupost.com/2016/10/21/pemilik-situs-kronik-mongondow-resmi-terlapor-di-polres-bolmong/).
Timbangan yang digunakan cukup tiga: UU Pers, Kode Etik Jurnalistik, dan
Pedoman Penyiaran Media Siber dari Dewan pers.
Apabila telah selesai dengan publikasi itu,
lanjutkan dengan dua unggahan berita yang lain, detotabuan.com (http://detotabuan.com/2016/10/21/kawal-laporan-di-mapolres-bolmong-audie-kerap-gandeng-2-pengacara/)
dan kotamobagupost.com
(http://kotamobagupost.com/2016/10/21/dugaan-kejahatan-media-ciber-audie-kerap-gandeng-2-pengacara/).
Lima berita itu adalah contoh nyata
bagaimana Pasal 1, 2, dan 3 Kode Etik Jurnalistik serta poin 2 Pendoman
Penyiaran Media Siber sama sekali tidak dianggap. Bagaimana mungkin penulisnya
pantas disebut wartawan dan situs yang mempublikasi adalah ''media siber'' jika konfirmasi pada obyek utama berita tidak
dilakukan? Tidak pula ada penjelasan kepada pembaca, bahwa berita tersebut
masih memerlukan verifikasi lebih lanjut yang diupayakan dalam waktu
secepatnya. Penjelasan ini, (sekali lagi) menurut poin 2, bagian c.4 Pendoman
Penyiaran Media Siber, ''dimuat pada bagian akhir dari berita yang sama, di
dalam kurung dan menggunakan huruf miring.''
Saya tidak pernah sekalipun dihubungi untuk
konfirmasi oleh wartawan atau sekadar tukang pel dari tiga situs berita itu.
Padahal, dugaan yang disematkan--terutama oleh kotamobagupost.com--, kejahatan media siber, sungguh seram dan mendesak saya ketahui dan tanggapi. Jika
orang-orang dogol yang mengelola tiga media itu tidak memiliki alamat, nomor
telepon, WA, atau BBM saya, maka jelas terpampang di blog ini--sebagai sumber artikel yang diduga mencemarkan nama baik
orang--alamat email yang dapat segera digunakan mengakses konfirmasi demi
keberimbangan, check, recheck, dan verifikasi.
Kalau berita-berita seperti itu, yang
melepeh kaidah-kaidah yang semestinya ditegakkan, disebut praktek dan produk jurnalistik,
buat apa saya (barangkali juga publik umumnya) menganggap kapiran semacam Audy
Kerap--Ketua PWI KK pula--sebagai wartawan? Dan media publikatornya adalah
situs berita? Media siber?
Secara khusus saya ingin mengupas
pemberitaan yang ditajuki Pemilik Situs Kronik Mongondow Resmi Terlapor
di Polres Bolmong di kotamobagupost.com,
di mana Audy Kerap--sebagai pelapor nama baik yang tercemar--bertahta jadi
penanggung jawab, pemimpin umum, dan pemimpin redaksinya. Ini berita atau isi pamflet pembersihan got
mampet? Strukturnya amburadul, bahasanya compang-camping, sumbernya (kecuali
polisi) mengarang-ngarang dan berhalusinasi belaka. Dan, pihak yang diinsinuasi
dari alinea pertama hingga akhir, sama sekali tak diberi ruang dan tempat untuk
didengar. Berita ini adalah produk sampah.
Dengan
kata-kata kutipan langsungnya sendiri, saya mudah memperkarakan Audy Kerap dan kotamobagupost.com. Pernyataan-pernyatan yang dilontarkan
adalah contoh isi kepala kosong dan menunjukkan dia tidak pernah benar-benar membaca
artikel yang saya tulis (Berita
''Picek'', Ditulis Si Tuli, Mengutip Sumber Bisu dan Linglung). Dia tidak
pula genah beda blog dan situs
berita. Atau, lebih mengerikan lagi, dia--dan wartawannya di kotamobagupost.com--gagal paham parah
karena ilmu pengetahuan dan penguasaan bahasa Indonesianya memang cuma pas
bandrol.
Berita
dengan penulisan bombastis, insinuatif, hiperbolik, dan penuh ancaman seperti Pemilik Situs Kronik Mongondow Resmi
Terlapor di Polres Bolmong, galib kita temukan di media-media kuning, tak
berkelas, dan kacangan. Yang layak hanya dijadikan alat pengancam, penekan, dan
bahkan pemerasan.
Wartawan
yang punya kelas tentu tahu--atau paling tidak pernah mendengar--tentang hermeneutika,
salah satu jenis filsafat yang mempelajari interpretasi makna. Tentang
bagaimana sebuah teks berhubungan dengan pengarang dan pembacanya. Dengan
pendekatan Hermeneutika, salah satu alinea tulisan saya, ''... sudah lama saya menyimpulkan, tak sedikit
mereka yang menyandang gelar wartawan di BMR tak lebih dari sekumpulan orang
tolol, arogan, sok jago, yang merasa paling benar sendiri. Namun, mecermati
pemberitaan isu dugaan pelecehan profesi yang melibatkan Olden Wein Kakalang
serta komentar dan pernyataan dari para jurnalis (yang merasa tercemar),
termasuk Ketua PWI KK, saya harus mengakui: imajinasi saya tak mampu lagi
menemukan kata yang lebih sarkas untuk menggambarkan derajat tumpulnya otak
kebanyakan mereka'', dapat dientepretasi dengan tepat.
Jelas,
terang-benderang, bahwa ''tak sedikit mereka yang menyandang gelar wartawan di
BMR'' yang ''tak lebih dari sekumpulan orang tolol, arogan, sok jago, yang
merasa paling benar sendiri.'' Dengan demikian, wartawan yang merasa
tersinggung, tercemar nama baiknya, tentu hanya mereka yang masuk kategori
''sekumpulan orang tolol, arogan, sok jago, yang merasa paling benar sendiri''.
Apakah Audy Kerap adalah bagian dari kumpulan ini, hingga dia merasa nama
baiknya tercemar?
Alinea
lain yang juga dianggap krusial, ''terkait
dengan pernyataan Ketua PWI KK, yang melengkapi seluruh sirkus dan komedi isu
pelecehan profesi wartawan itu, adalah konfirmasi terhadap kualitas jurnalis di
BMR umumnya, yang cuma setara sendal jepit. Apa urusannya komentar pribadi
seorang Olden dengan posisinya sebagai ASN di KK? Kalau Ketua PWI KK ingin
menarik perhatian Walikota, tidak perlulah menunggangi isu sumir yang akhirnya
cuma mengarahkan orang yang waras dan berpikir menafsir apa modus di
baliknya'', dengan sadar saya tuliskan mengomentari totabuanews.com yang menulis, ''Lanjutnya
lagi, apabila dipandang perlu, maka PWI Kota Kotambagu akan menyurati Walikota
Kotamobagu sebagai atasan dari PNS tersebut. “Langkah ini, pertama untuk
mendapatkan klarifikasi dari bersangkutan, maksud dari tulisan di akun facebook
milik bersangkutan,” katanya lagi.''
Menyurati
Walikota KK? Lebay betul? Wartawan
magang pun tahu, penanggung jawab langsung terduga ASN yang jadi pangkal isu
adalah Kepala RSUD Kotamobagu. Di atas Kepala RSUD ada Kepala Dinas Kesehatan,
dan seterusnya. Klarifikasi perkara sepele kok
sampai ke Walikota? Pasalnya pun cuma ''perasaan''. Karenanya, kalau rencana
''jika perlu'' itu bukan cari perhatian, gertakan, lalu apa namanya? Ingin
ditepuk-tepuk di pundak dan disemangati dengan ''good job''?
Puncak
dari gagal paham yang gagah berani dietalasekan oleh kotamobagupost.com adalah seolah-olah polisi membocorkan bahwa
dugaan tindak pidana yang saya lakukan akan dijerat dengan UU ITE/ 2008, Pasal
27 Ayat 3, junto Pasal 36. Kalau begitu, apa sebenarnya yang dilaporkan oleh penanggung jawab, pemimpin umum, dan pemimpin redaksi Anda sendiri?
Maksudnya dia baru mengarang-ngarang dan mengais-ngais alasan di depan petugas
yang menerima laporan?
Saya tidak heran Ketua PWI KK, Audy Kerap, pekak
bahwa Pasal
1, Ayat 1, UU ITE menyebutkan dengan rinci: ''Informasi Elektronik adalah satu atau
sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara,
gambar, peta, rancangan, foto, electronic data interchange (EDI), surat
elektronik (electronic mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya,
huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol, atau perforasi yang telah diolah yang
memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.''
Kata
kunci dari Pasal 1, Ayat 1, UU ITE itu adalah ''yang telah diolah yang memiliki
arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya''. Kalau Ketua PWI
KK, Audy Kerap, gagal paham, seperti burung koak, maka cari tahu dan pahamilah.
Menakut-nakuti dengan kartu pers dan gelar wartawan, jabatan Ketua PWI KK,
pemberitaan sepihak dan framing
bersalah terhadap siapapun yang dianggap musuh, dan laporan ke polisi dengan
kawalan dua pengacara (saya malah kecewa, kok
cuma dua? Bawa sekalian 30 orang, yang terpintar di Sulut, supaya dugaan
terhadap saya dapat dicermati hingga kutu-kutunya), yang rupanya memang menjadi
tabiat Anda? Anda salah orang. Memangnya saya laki-laki apaan? Sebuah laporan polisi
yang bukti-buktinya cuma angin dan perasaan belaka belum membuat adrenalin saya
berdenyut.
Baiklah.
Ini penilaian saya: Ketua PWI KK, Audy Kerap, otak Anda memang tumpul. Sebab
apa lagi yang pantas dilekatkan pada orang yang menyandang jabatan pimpinan
tertinggi sebuah media (online), yang
melaporkan seseorang melanggar UU ITE sembari meracau ihwal konfirmasi yang
menjadi wilayah UU Pers, Kode Etik Jurnalistik, dan Pedoman Penyiaran Media Siber.
Blog ini bukan situs berita. Sudah
bertahun saya bukan wartawan. Sumber dan konfirmasi saya adalah publikasi di media
publik, lewat saluran publik.
Karena
itu, Anda temukan dulu ahli bahasa (di Mongondow, yang saya tahu, ada satu
orang. Namanya Hamri Manoppo), syukur-syukur pakar hermeneutika, pastikan bahwa
memang ada pencemaran nama baik yang saya tuliskan. Kalau sekadar tafsir Anda,
yang terbukti (dari tulisan-tulisan di kotamobagupost.com)
pengetahuan dan praktek bahasa Indonesia-nya tak lebih baik dari keponakan saya
yang duduk di kelas 5 SD, minggirlah saja jauh-jauh. Awak yang tak bisa
menyanyi, pemain piano yang disalahkan.
Saya akan
melayani ''permainan'' Ketua PWI KK, Audy kerap, hingga dia selesai dengan
seluruh ''ancamannya''. Setelah itu, bersiap-siaplah. Jangan sampai begitu saya
melakukan tindakan balik lalu dia cuma terduduk mencabik-cabik kepala dan
meracaukan, ''Who the hell are you?'' Menuduh
seseorang melakukan pencemaran nama baik, artinya yang bersangkutan memang
punya nama baik. Sebagai terlapor, bergulir atau tidak kasusnya, saya akan
membuktikan nama seperti apa sih yang
dipunyai Audy Kerap dengan sepak-terjangnya selama ini.
Dalam
soal adu otak, tidak ada yang lebih menyenangkan (juga menjengkelkan) berurusan
dengan mahluk tumpul yang merasa diri jagoan. Kian banyak yang dia ucapkan,
lakukan, apalagi dituliskan, semakin dalam lobang yang digali untuk membenamkan
kepalanya sendiri. Tugas saya menjadi mudah: tinggal menimbun dan memasangkan
nisan.
Akhirnya,
saya menutup tulisan ini dengan menukil kisah dari meme ''Si Bodoh yang Sok Tahu'', tentang Anak Nyamuk dan Ibu
Nyamuk. Tersebutlah, si Anak Nyamuk dengan bangga mengatakan pada Ibu Nyamuk,
''Aku hebat, Ma. Ketika aku terbang orang-orang bertepuk-tangan!'' Sang Ibu
Nyamuk, dengan wajah terkejut dan prihatin menasehati, ''Awas, Nak, tepuk-tangan
mereka untuk membunuhmu! Bukannya kamu hebat!''
Tuan
Ketua PWI KK, Audy Kerap, kisah Anak Nyamuk dan Ibu Nyamuk itu saya tujukan
pada Anda dan siapapun yang tersanjung dan meriah dari tepuk-tangan laporan
pencemaran nama baik itu. Hati-hati sajalah. Badai yang sesungguhnya belum
mulai bertiup.***
Singkatan dan Istilah yang Digunakan:
ASN: Aparatur Sipil Negara; BBM: BlackBerry
Messenger; BMR: Bolaang Mongondow Raya; Bolmong: Bolaang
Mongondow; ITE: Informasi dan Transaksi Elektronik; KK: Kota
Kotamobagu; Polres: Kepolisian Resort; PWI: Persatuan Wartawan
Indonesia; RSUD: Rumah Sakit Umum Daerah; SD: Sekolah Dasar; Sulut:
Sulawesi Utara; UU: Undang-undang; dan WA: WhatsApp.