Palas

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Balai Pustaka, 2005, mencantumkan: kro.nik n catatan peristiwa menurut urutan waktu kejadiannya; susunan waktu; yang berhubungan dengan waktu. Sedang Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI), Balai Pustaka, 2006, menjelaskan: kronik E cerita yang meriwayatkan suatu peristiwa tersusun menurut waktu terjadinya.

Foto-Foto: Internet

Tuesday, March 29, 2011

Kronik Pilkada Bolmong (2): Membaca Strategi dan ‘’Jurus’’

PROSES pencalonan kandidat Bupati-Wabup Bolmong 2011-2016 saya ikuti dengan keingintahuan membuncah, karena bisa menjadi indikator awal pemetaan terhadap peluang masing-masing kandidat.

Tatkala MS Binol dan Masni H Pomo mulai disebut-sebut memilih jalur independen, kemudian Limi Mokodompit dan Meidy Pandeirot resmi mendapatkan partai pengusung, saya menyimpulkan: Pertama, mereka solid dan sudah mempersiapkan diri sejak lama (termasuk sumber dana). Dan kedua, mereka jeli ‘’mencuri’’ waktu karena bisa lebih lama bersosialisasi ke konstituen.

Walau di sisi lain langkah cepat yang diambil oleh dua pasang kandidat itu juga bisa ditafsirkan sebagai ketergesa-gesaan dan kepercayaan diri berlebihan yang umum diidap politikus amatir di Indonesia. Biasanya politikus jenis ini seperti mesin yang cepat panas, tetapi juga bisa segera dingin dan bahkan mogok.

***

Salihi Mokodongan, seperti juga  Moha, adalah kandidat yang diuntungkan karena tidak terlampau sulit mendapatkan partai pengusung –kendati dalam konteks ini Limi Mokodompit yang paling unggul. Salihi yang dekat dengan berbagai kalangan, termasuk elit Partai Amanat Nasional (PAN) di Sulut, membuat dia segera dilirik sebagai alternatif utama. Setelah PAN, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Gerindra juga menyampaikan minat menjadi pengusung.

Di atas kertas suara PAN, PKS, dan Gerindra sudah mencukupi. Yang saya ketahui, berdasarkan berbagai pertimbangan yang tidak hanya bersifat politis, tokoh-tokoh di belakang Salihi juga mendekati PDI Perjuangan yang memberikan respons positif. Hanya diperlukan tiga-empat pertemuan sebelum diputuskan PAN, PKS, PDI Perjuangan, dan Partai Damai Sejahtera (PDS) yang bergabung setelah Gerindra batal, memutuskan mengusung  Salihi dan Yani Tuuk sebagai calon Bupati-Wabup Bolmong 2011-2016.

Didi Moha sedikit lebih kompleks. Sekali pun sudah dipastikan akan diusung oleh PG (partai mayoritas di DPR Bolmong), hingga sepekan sebelum pendaftaran ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bolmong, sepengetahuan saya masih mempertimbangkan calon wakil yang akan dipilih.

Putusan yang diambil PG, Didi, dan tim di belakangnya sangat diluar dugaan. PG yang berkoalisi dengan Partai Demokrat (PD) secara mengejutkan memilih Norma Makalalag sebagai calon Wabup. Ada tiga aspek yang saya cermati: Pertama, Norma berlatar birokrat murni dengan rekam jejak yang relatif biasa saja. Kedua, dia tidak berasal dari daerah yang saat ini masuk wilayah Bolmong Induk. Dan ketiga, dia sama sekali tidak dikenal bergiat di aktivitas yang menghasilkan modal sosial dalam bentuk hubungan baik atau popularitas.

Calon terakhir yang kemudian lolos verifikasi KPU, Samsurijal Mokoagow dan pasangannya, Nurdin Mokoginta, adalah yang paling berat melalui tahapan pencalonan. Hingga mendaftar ke KPU, pasangan ini masih bersikutat dengan persyaratan dasar: dukungan partai pengusung.  Praktis saat pasangan lain sudah bekerja di tengah para pemilih, mereka masih disibukkan dengan pemenuhan kelengkapan administrasi.

***

Cermatan terhadap proses pencalonan lima pasang calon Bupati-Wabup Bolmong 2011-2016 membuat kita bisa mengkonklusi beberapa simpulan: Pertama, ada calon yang sejak awal memang siap, solid, memiliki tim dan dilengkapi strategi memadai. Yang masuk kategori ini adalah (agar adil diurut berdasarkan alfabet) Didi Moha-Norma Makalalag, Limi Mokodompit-Meidy Pandeirot, dan Salihi Mokodongan-Yani Tuuk. Kedua, pasangan yang tergesa-gesa dan hanya berbekal keyakinan semata, yaitu MS Binol dan Masni H Pomo. Dan ketiga, pasangan yang kurang siap, kurang solid, serta tidak didukung tim dan strategi memadai, yaitu Samsurijal Mokoagow-Nurdin Mokoginta.

Dengan peta dasar seperti itu, pertanyaan kemudian, bagaimana para kandidat dan orang-orang di belakangnya merumuskan strategi dan implementasinya untuk memenangkan pilihan konstituen? Sejujurnya, hanya dengan melihat proses awal pencalonan masing-masing pasangan itu, sesaat setelah KPU selesai melakukan verifikasi, setiap kali membicarakan dinamika politik Pilkada Bolmong, saya mengatakan kompetisi ini boleh jadi hanya untuk tiga pasangan saja, yaitu: Didi Moha-Norma Makalalag, Limi Mokodompit-Meydi Pandeirot, dan Salihi Mokodongan-Yani Tuuk. Itu pun dengan catatan tidak ada evaluasi dan re-organisasi radikal yang dilakukan Samsurijal Mokoagow-Nurdin Mokoginta terhadap tim pemenangannya.

Bagaimana kesiapan tiga pasangan itu dan tim di belakangnya? Mari kita lihat satu per satu.

Tim di belakang Didi Moha dan Norma Makalalag adalah sejumlah politikus dan anak-anak muda yang berpengalaman minimal sejak memenangkan Marlina Moha-Siahaan sebagai Bupati Bolmong di masa jabatan kedua (2006-2011), serta mengantar Didi Moha ke kursi DPR RI.

Selain tim kuat, Didi dan pasangannya juga memiliki modal politik dan sosial kokoh, karena posisinya Ibunya yang masih menjabat Bupati Bolmong. Serta, yang tak kurang penting, perolehan suaranya di Pemilu Legislatif 2009 lalu di wilayah Bolmong. Itu sebabnya tidaklah heran bila sejumlah survei awal yang dilakukan oleh beberapa lembaga kredibel menunjukkan Didi Moha didukung tak kurang 47 persen pemilih di Bolmong. Keunggulan ini masih ditopang dukungan konsultan politik yang punya nama besar.

Hanya dengan mempertahankan modal awal yang dia miliki, Didi Moha dan pasangannya sebenarnya sudah berada di ‘’jalan tol’’ ke kursi Bupati-Wabup Bolmong 2011-2016.

Masalahnya, strategi yang akan diimplementasinya oleh pasangan ini dan timnya sudah bisa diduga sejak awal. Mereka pasti menggunakan ‘’jurus’’ yang sama, yang sudah terbukti ampuh di Pilkada 2006 dan Pemilu Legislatif 2009.

Sayangnya strategi dan ‘’jurus’’ yang sama juga khatam diketahui tim di balik pasangan Limi Mokodompit-Meidy Pandeirot. Pitres Sombowadile yang kerap dikutip selama tiga bulan terakhir sebagai konsultan pasangan ini, adalah mantan ‘’orang dekat’’ Bupati Marlina Moha-Siahaan, yang juga terlibat intens saat Didi Moha mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI.

Faktanya, diakui atau tidak, dua pasangan itu dan tim-nya nyaris merumuskan dan mempraktekkan strategi yang sama. Bahwa strategi dan implementasi tim di belakang Limi dan pasangannya lebih efektif, sesungguhnya bukan karena orang-orang di balik pasangan ini lebih baik; tapi karena faktor lain yang akan kita bahas kemudian.

Berbeda dengan dua pasangan itu, tim di balik pasangan Salihi Mokodongan-Yani Tuuk adalah orang-orang yang sejak lama diketahui berada di jalur yang berbeda dengan mainstream politik  di Bolmong yang dilembagakan oleh tokoh seperti Marlina Moha-Siahaan dan sejumlah elit politik lain dari generasi di atasnya. Mereka umumnya adalah politikus muda atau sejumlah praktisi dan pemikir yang lebih independen; berpengalaman memenangkan kompetisi politik di luar arus utama praktek politik di Bolmong; dan yang terpenting: mereka umumnya adalah orang-orang dengan latar belakang lokal yang kuat.

Keunggulan lain yang kurang diperhitungkan (atau diperhitungkan tetapi tidak dengan sangat serius) oleh kandidat lain adalah basis massa riil Salihi Mokodongan yang sangat kuat di Lolak dan sekitarnya; serta Yani Tuuk di wilayah Dumoga, lebih khusus lagi di kalangan warga Kristiani. Apalagi Salihi, basis massanya terbentuk bukan karena sentimen politik, melainkan atas kekuatan aktivitas dan hubungan sosialnya sebagai pribadi, di mana daya rekat dan solidaritasnya tidak mudah digoyahkan.***

Artikel ini sudah dipublikasi di Harian Radar Totabuan, Selasa (29 Maret 2011).