Palas

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Balai Pustaka, 2005, mencantumkan: kro.nik n catatan peristiwa menurut urutan waktu kejadiannya; susunan waktu; yang berhubungan dengan waktu. Sedang Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI), Balai Pustaka, 2006, menjelaskan: kronik E cerita yang meriwayatkan suatu peristiwa tersusun menurut waktu terjadinya.

Foto-Foto: Internet

Saturday, March 2, 2013

‘’Baku Feyem Sampe Baku Tiop’’


SINISME saya terhadap konvoi politik yang digelar bakal calon Walikota-Wakil Walikota (Wawali) Kota Kotamobagu (KK), Kamis (28 Februari 2013) dan Jumat (1 Maret 2013), direspons aneka tanggapan. Kebanyakan lucu, beberapa lagi mengformasikan fakta-fakta yang tak banyak ditemukan di media arus utama.

Konvoi menyambut Surat Keputusan (SK) ditetapkannya pasangan Djelantik Mokodompit (DjM)-Rustam Simbala (RS) hasil koalisi Partai Golkar (PG) dan PDI Perjuangan (mokolabot, partai manakah yang SK-nya diusung-usung saat konvoi berlangsung?), rupanya sudah jadi obsesi DjM. Informasi ini bahkan diperkuat oleh salah seorang pelaku utama yang turut dalam seleksi bakal calon Wawali pendamping DjM.

Begini kisahnya: Belum lagi fit and proper test (FPT) dan psikotes PDI Perjuangan selesai, DjM sudah kasak-kusuk ke beberapa kandidat yang dia sasar. Pada kandidat-kandidat ini, dengan bahasa janji dibungkus pertanyaan, DjM mengatakan –saya kutipkan kurang-lebihnya: ‘’Kalu torang dua pe SK kaluar, kira-kira brapa motor deng oto mo ba jemput?’’

Menurut ahlul cerita yang Sabtu pagi (2 Maret 2013) penuh semangat bertutur ke saya, DjM bahkan berkeinginan memacetkan sepanjang ruas jalan utama KK dengan iring-iringan sepeda motor dan mobil.

Ada kandidat yang cukup bernyali mengoreksi, bahwa rencana show of force yang diimpi-impikan DjM masih terlalu prematur. Hanya menciptakan kemacetan dan kebisingan, apalagi kampanye resmi belum dimulai. Lain soal kalau Komisi Pemilihan Umum (KK) telah mempersilahkan semua kandidat memeragakan dukungan yang digalang, bantahnya, ‘’Memang musti baku abis!’’

Mana bisa DjM didebat dan dikoreksi? Sejak terpilih sebagai anggota DPR RI, tanpa ketahuan apa yang pernah dia lakukan untuk Sulawesi Utara (Sulut) dan Mogondow khusus, DjM dikenal ponggah dan makang puji. Yang tak mengenakkan, petantang-petentengnya tidak diimbangi isi kepala yang memadai, justru sebaliknya diperparah kesukaannya terhadap uang.

Sebagai bagian dari warga Mongondow, saya pernah malu dan kehilangan kata-kata ketika satu saat terlibat percakapan dengan beberapa tokoh politik nasional, lalu salah seorang (pimpinan salah satu organisasi besar yang pernah sefraksi dengan DjM) berkomentar, ‘’Sebagai orang Sulut, Anda pasti kenal Djelantik Mukadompet dong?’’ Dua kali saya harus mengoreksi dan memastikan kawan ini tak salah sebut. Selain malu, saya juga marah karena salah satu marga besar Mongondow dipelesetkan sesuka-suka hati.

Tapi saya harus menelan lagi kejengkelan yang siap dimuntahkan setelah disodori fakta-fakta yang hampir mustahil didebat. Lagipula, kalau pun olok-olok itu spekulasi dan tuduhan semata, fakta apa yang saya miliki untuk melakukan pembelaan? Kenyataannya sebagai anggota DPR RI DjM memang nir-prestasi.

Ketika DjM terpilih sebagai Walikota KK (berpasangan dengan Tatong Bara –TB), saya berusaha keras bersikap fair bahwa dia mampu mengubah diri. Reputasi tak sedap yang bersiliweran di sekitarnya, cuma buatan oknum-oknum tak bertanggungjawab.

Namun rentetan skandal yang meruyak, mulai dari penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) 2009, relokasi Pasar Serasi ke Genggulang dan Poyowa Kecil, dan yang terkini korupsi pembangunan kembali Mesjid Raya Baitul Makmur (MRBM), membuktikan apa yang dikatakan banyak orang punya kesahihan. Show of force dan makang puji sudah sifat bawaan DjM, seperti kilahannya yang dikutip kandidat bakal calon Wawali yang mendebat, ‘’Ngana musti blajar bagimana cara shock terapi lawan dengan massa.’’

Selain bahlul, dia juga alpa belajar. Bila benar frasa yang dikutip (shock terapi) datang dari mulutnya, penyakit dungu DjM sudah di taraf kronis. Saya yakin yang dimaksud bukan shock therapy, melainkan psychological warfare (psywar).

***

Eit, tunggu dulu, entah karena terprovokasi –artinya psywar DjM membuahkan hasil—atau karena makang puji dan dungu tergolong mudah menular, bakal calon Walikota-Wawali yang diusung Partai Amanat Nasional (PAN) ikut-ikutan pula menggelar konvoi. Dengan alasan apa? Konvoi DJM dengan kilah merayakan SK koalisi PG-PDI Perjuangan dan penetapan RS sebagai bakal calon Wawali-nya, tetap lebay tapi setidaknya lebih masuk akal.

Ketiadaan alasan yang logis aksi konvoi TB-Jainudin Damopolii (JD), PAN, dan massa yang diklaim sebagai pendukung, tak terelakkan melahirkan dugaan dan tuduhan. ‘’Ah, sebagian besar kendaraan, terutama Bentor, ikut konvoi karena dibayar Tim Sukses TB-JD,’’ tulis salah seorang penanggap lewat BlackBerry Messenger (BBM). Nilainya, Rp 50.000 per Bentor.

Jemari saya gatal ingin membalas dengan informasi yang lebih syur dan seksi berkaitan dengan pasangan TB-JD. Informasi jenis ini, apalagi ditunjang bukti tak terbantah, pasti bakal dimamah-biak konstituen yang tengah esktasi gegar Pilwako. Putusan menyandingkan TB-JD masih tetap tanda-tanya bagi sebagian besar warga KK yang mengantongi hak pilih; yang tak pernah dijawab dengan tuntas dan memuaskan, baik oleh kandidat maupun partai pengusungnya.

Apa itu? Tersebab tulisan ini bukanlah bab tentang TB-JD, melainkan DjM dan ‘’demam’’ makang puji kosong yang dia tularkan, baiknya kita tabung dulu hal-ihwal yang bikin penasaran para gossiper politik itu.

***

Saya akan menutup tulisan ini dengan analisis dari para penanggap yang berkomentar terhadap rivalitas DjM dan TB di Pilwako KK. Salah satu cermatan asal-asalan tapi tak amatir mengkonklusi: Politik dan pribadi, DjM dan TB tak akan pernah sejalan lagi. Mereka akan berusaha keras saling mengalahkan satu sama lain, dengan berbagai cara. Telahaan ini sejalan dengan apa yang sudah lebih setahun berulang kali saya tulis di blog ini.

Padahal, jelas si penanggap kita, pertentangan dua bakal calon Walikota yang disebut-sebut terkuat di Pilwako KK itu, hanya dimulai dari ‘’baku feyem’’ gara-gara pembagian ‘’pampasan perang’’. Nah, megingat keduanya sama-sama bermutu rendah, konvoi adu banyak massa cuma bumbu penyedap. Di balik itu, tidakan-tindakan lebih irasional potensial dilakukan, termasuk ‘’baku tiop’’.

Saya menyukai bagian ‘’baku tiop’’ itu. Kendati DjM dan TB sama-sama bergelar ‘’haji’’ dan ‘’hajjah’’, kompetisi mereka yang telah mencapai taraf saling menghabisi, membuka kemungkinan dipraktekkannya cara-cara paling primitif sekali pun. Tidak sulit menemukan dukun sakti di Mongondow yang mampu membuat ‘’dot’’ seseorang hanya berbekal kemenyan, ayam hitam, dan komat-kamit mantera.

Benar atau tidak, urban legend yang saya dengar sejak masa Sekolah Dasar (SD) mengungkap, hasil kerja ‘’tukang tiop’’ termanifestasi lewat berbagai cara. Sekadar baku sedu, korbannya paling-paling mendadak ditumbuhi bisul sebesar bola tenis di bokong. Yang agak serius, pengkor atau meriang, yang membuat bingung dokter saat melakukan diagnosa. Yang serius, korban buang air dan mutah darah, lalu perlahan-lahan kuncup, dan selamat tinggal!

Seberapa akurat cerita dari mulut ke mulut itu, yang menurut saya cuma gossip orang kurang kerjaan, hanya para dukunlah yang tahu. Saya lebih percaya bahwa para politikus potensial buang air dan muntah darah karena maag bleeding. Penelitian membuktikan, kegalauan berlebihan dapat mengakibatkan gangguan pencernaan. Dan gangguan pencernaan akut biasanya berujung maag bleeding.***

Friday, March 1, 2013

Politik Bocah ‘’Play Group’’


MENCERMATI ulah para bocah selalu jadi kenikmatan tiada tara. Bersama dua keponakan yang kini tinggal di rumah Ayah-Ibu di Jalan Amal, Gatan dan Apgan, misalnya, membuat saya melepas segala atribut orang tua atau profesional yang di keseharian disapa ‘’Bapak’’ dengan penuh segan.

Tiap kali berada di Kota Kotamobagu (KK), dua bandit kecil itu menjadikan dunia saya ditaburi bintang. Karena dipeningi aksi huru-hara mereka; pun sebab kejailan keduanya –ditambah si bungsu Ubay yang kebisaannya baru taraf ‘’hu’’ dan ‘’ha’’— tak henti menciptakan kegembiraan.

Tiga kepala kecil itu, dilengkapi seorang keponakan perempuan yang kecil-kecil sudah menunjukkan bakat Zena The Warrior Princess, Zoya, segala penat dan beban menguap. Sekali pun mesti memainkan banyak peran (kuda-kudaan, pesilat, ahli masak-memasak, tukang memandikan, pendongeng, dan sesekali uncle yang galak), saya sama sekali tak keberatan. Mereka memberikan hiburan ekslusif, sekaligus cermin jernih yang membawa banyak pencerahan.

Bocah tetaplah bocah. Apalagi Gatan dan Apgan yang masih tercatat sebagai murid Taman Kanak-Kanak (TK) dan anggota ‘’Play Group’’ (saya kesulitan merumuskan apakah Play Group memang harus diterjemahkan sebagai ‘’Kelompok Bermain’’ –bukankah TK juga demikian; dan tepatkah sematan ‘’murid’’ untuk anggotanya?).  Saya selalu terbahak-bahak melihat dan mendengar rivalitas di antara mereka berdua, yang kebetulan bersekolah (sebenarnya lebih tepat disebut bermain-main sembari sedikit belajar) di tempat yang sama.

Apgan, sekali pun lebih muda dan bertubuh kecil, tak pernah rela takluk. Apa yang dilakukan kakaknya, selalu ingin dia saingi. Termasuk dalam urusan berteman. Kalau Gatan meng-klaim punya teman lima, Apgan akan menggandakan jumlah temannya menjadi 10 (setelah itu dia kebingungan menjelaskan berapa 10 itu sesungguhnya).

Tapi, sehebat-hebatnya kedua bocah itu, mereka sama-sama tak berdaya di hadapan Zoya. Bukan karena Zoya lebih galak dan siap menerkam Apgan dalam memperebutkan mainan, tapi karena perempuan kecil ini tampaknya tahu keunggulan lebih yang dia miliki: Aki, Ba’ai, Papa, Mama, Om, Tante, dan Uncle Pemarah akan melompat begitu terlihat tanda-tanda –terutama— Apgan akan melakukan sesuatu terhadap Zoya.

***

Kamis sore (20 Februari 2013) Djelantik Mokodompit (DjM)-Rustam Simbala (RS) yang resmi diusung koalisi Partai Golkar (PG) dan PDI Perjuangan sebagai bakal calon Walikota-Wawali (Wawali) KK 2013-2018, diarak dengan konvoi oleh massa pendukungnya. Arak-arakkan ini demi menyambut Surat Keputusan (SK) penetapan mereka sebagai kandidat yang akhirnya dikantongi.

Pada seorang kerabat yang iseng menelepon, menggambarkan suasana konvoi itu, saya berkomentar, ‘’Biasa itu. Sama deng Apgan kalu abis ba kase warna gambar, kong dia kira yang dia bekeng lebe bagus dari yang Gatan ada warnai.’’

DjM kelihatan punya tabiat khas yang sukar diubah, yaitu kegemaran pada show of force hingga kita –lebih khusus warga KK—jadi sukar membedakan apakah itu tanda syukur atau ekspresi makang puji. Adipura diarak dengan konvoi, kini SK (sepotong kertas biasa yang anehnya diperlakukan bagai jimat keramat) juga dia dikonvoikan. Sebentar lagi kalau DjM ikut lomba mancing dan berhasil menangkap ikan lele, bukan tidak mungkin juga akan diarak dengan konvoi keliling kota.

Entah kenapa, kepada kerabat yang menelepon itu, saya spontan pula menyelutuk, ‘’Karna DjM-RS so kase tunjung makang puji, jang herang kalu Tatong Bara (TB)-Jainudin Damopolii (JD) –yang diusung Partai Amanat Nasionla (PAN)— mo bekeng konvoi lei. Dorang mo makang puji, orang banya’ makang asap kanalpot.’’

TB-JD dan pendukungnya memang tak mau kalah unjuk kekuatan, yang digelar megah Jumat (1 Maret 2013). Meminjam lalu-lintas gambar dan komentar di BlackBerry Messenger (picture profile dan group), ‘’Konvoinya Membirukan KK’’. Konvoi DjM-RS ''konon'' diperkirakan diperkuat lebih 3.000 orang; ''katanya'' dilipat dua oleh bala manusia dan kendaraan yang digelar TB-JD (sembari mereka melupakan ada 90.000 lebih pemilih KK yang kesal atau naik pitam karena dihadang macet dan kebisingan).

Tapi tetap saja gelar kekuatan TB-JD sungguh luar biasa! Makang puji dibalas makang puji pe kaka’. Konvoi dibalas konvoi lebih besar. Kontan dan lunas. Juga sama goblok dan kekanak-kanakkannya.

Warga KK tak perlu terkejut dan heran melihat keanehan-keanehan rivalitas di antara dua politisi itu dan para pendukung masing-masing. Bersiap saja menerima segala kemungkinan, termasuk satu ketika melihat TB menggunakan rok renda-renda dan jadi perhatian orang banyak, lalu DjM akan menyaingi dengan menyematkan renda-renda bukan hanya di pantolan tapi mungkin hingga ke dasi dan ujung lengan kemeja.

***

Tindakan politik, apapun bentuknya, semestinya dilakukan dengan kalkulasi matang. Serta, yang terpenting, harus memiliki alasan kuat agar tak menjadi sekadar penyaluran ‘’syawat makang puji’’ yang hasilnya nol, atau lebih buruk lagi mendegradasi kredibilas politik seorang politikus atau partai politik (Parpol) di mana dia bernaung.

Konvoi DjM-RS adalah contoh bagaimana unjuk kekuatan yang seharus memberi manfaat, secara politik justru jadi amunisi dan pupuk kebencian, bahkan dari khalayak yang sebelumnya mendukung atau minimal bersikap netral. Mengusung SK penetapan DjM-RS adalah provokasi, baterek, mengecilkan, atau bahkan menghina sejumlah calon pesaing RS, baik yang mendaftar lewat PG maupun yang mengikuti fit and proper test (FPT) dan psikotes PDI Perjuangan.

Saya tak mampu membayangkan perasaan mereka, khususnya Hairil Paputungan, yang sudah menjadi pengetahuan umum turut ambil bagian di keriuhan Pilwako KK karena sebelumnya resmi dilamar dan mendapat jaminan (langsung dari DjM) pasti dipilih sebagai bakal calon Wawali.

Sebaliknya, konvoi TB-JD juga sekadar parade ‘’tak ingin tampak kecil’’ yang nilai politisnya hampir nol. Bila hanya pasangan DjM-RS dan TB-JD yang ‘’dianggap’’ terkuat di Pilwako KK (baik dari dukungan partai serta sumber daya dan sumber dana), saya yakin TB-JD sudah keluar sebagai pemenang. Dua pasangan ini jauh dari ideal. Pilihan yang buruk di antara yang terburuk. Dan TB-JD, sebagaimana yang berulang kali saya tuliskan, lebih dapat diterima karena relatif lebih sedikit menciptakan musuh.

Keunggulan kecil itu tidak ditindak-lanjuti dengan strategi dan taktik yang menunjukkan kecerdasan, kematangan, kebijaksanaan, dan kerendah-hatian berpolitik. BBM status seorang wartawan yang bertugas di KK tepat menggambarkan penilaian terhadap konvoi DjM-RS dan aksi tandingan tanpa alasan TB-JD dan para pendukungnya: Udang vs katang. Lebe bae pilih ikang putih jo di Pilwako 2013.***

Kalkulasi Investasi Politik Herson Mayulu


KABAR duka itu menyebar cepat pada Jumat, 17 Februari 2012, Wakil Bupati (Wabup) Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Samir Badu, meninggal dunia di usia 49 tahun di RS Hasan Sadikin, Bandung, Jawa Barat. Pemerintah dan warga Bolsel kehilangan seorang pemimpin, pendidik, sekaligus politikus yang dikenal ‘’hemat dalam kata-kata’’.

Almarhum Samir Badu adalah sosok bersahaja yang tak banyak bicara. Setidaknya itu kesan yang saya tangkap ketika dia disandingkan dengan Herson Mayulu di pemilihan Bupati-Wakil Bupati (Pilbup) Bolsel 2010 lalu. Herson Mayulu yang malang-melintang di birokrasi kemudian beralih menjadi politikus, memang lebih ekspresif dalam tutur. Mereka adalah pasangan yang ideal, satu dan yang lain saling melengkapi.

Ketika terpilih dan dilantik sebagai Bupati-Wabup, hingga berpulang ke Rahmatullah, Almarhum Samir Badu memainkan perannya dengan baik. Saya tidak pernah mendengar ada pergesekan antara dia dan Bupati, sebagaimana yang umum terjadi di Mongondow. Sudah menjadi pengetahuan umum, kemesraan pasangan Bupati-Wabup atau Walikota-Wakil Walikota (Wawali) di Bolaang Mongondow Raya (BMR) sepertinya selalu berumur pendek.

Hanya tiga-empat bulan setelah dilantik, mereka mulai saling mengadu otot dan tarik-menarik pengaruh. Walikota Kota Kotamobagu (KK) Djelantik Mokodompit-Wawali Tatong Bara berseteru nyaris ketika janur pelantikan belum lagi kering. Perbedaan pendapat Bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim) Sehan Lanjar-Wabup Medi Lensun bahkan sempat diwarnai ancaman mundur dari Wabup. Hubungan Bupati Bolaang Mongondow (Bolmong) Induk Salihi Mokodongan-Yani Tuuk yang kerap meriang. Tak harmonisnya Bupati Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) Hamdan Daatunsolan-Wabup Depri Pontoh yang belakangan terbukti dengan cerainya mereka di Pilbup 2013 ini.

Bupati Herson Mayulu-Wabup (Almarhum) Samir Badu tak terjebak pada silang-selisih yang sedemikian gentingnya hingga menjadi konsumsi publik. Saya yakin ada banyak perbedaan pendapat di antara mereka, tetapi dengan menejemen hubungan yang baik, tak ada satu pun di antara ketidak-kesepakatan dan ketidak-sepahaman itu yang mencuat ke permukaan.

***

Berpulangnya Almarhum Samir Badu adalah kehilangan besar bagi Bupati Herson Mayulu. Apalagi hingga lebih setahun sejak hari duka itu, kursi Wabup Bolsel masih tetap dikosongkan.

Namun, apa pun alasannya, lebih dari sekadar tuntutan undang-undang (UU) dan turunannya, mesti ada Wabup yang mendampingi Bupati. Tak ada keraguan Herson Mayulu mampu memimpin Bolsel seorang diri, apalagi dia didukung aparat yang terus-menerus ‘’dicambuk’’ agar mencapai kinerja maksimal, termasuk dengan mempromosi orang muda seperti Tahlis Galang sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Sekda). Tapi memiliki seorang wakil tetap penting, agar tak seluruh beban pemerintahan dan birokrasi (juga politik) terpusat di pundak Bupati.

Herson Mayulu bukan Batman, apalagi Superman. Dia tak mungkin mengerjakan seluruh kompleksitas kepentingan (kebutuhan dan keinginan) masyarakat Boltim seorang diri. Yang paling sederhana, misalnya, betapa sulit dia bertindak sebagai pembuat kebijakan, pengambil keputusan, dan di saat yang sama juga bertugas melakukan pegawasan. Kalau tak salah, yang terakhir (pengawasan) dalam prakteknya galib diserahkan sebagai wewenang Wabup.

Pekan-pekan terakhir saya mendengar proses pemilihan Wabup Bolsel sudah bergulir lagi. Kabarnya DPR  telah membahas tata tertib (Tatib) pemilihan; dan segera melanjutkan ke tahap berikut. Siapa saja kandidat yang akan diusung, menjadi wewenang Bupati (yang dipilih lewat Pilbup) untuk mengajukan calon, sedang DPR memilih (bila calonnya lebih dari satu), menetapkan, dan mengawal prosesnya hingga pelantikan dilakukan.

Semoga yang terbaik bagi Bolsel, pemerintah, dan masyarakatnya yang akan terpilih.

***

Kita tak bisa menafikan bahwa posisi Wabup sangat strategis bukan hanya dari aspek pemerintahan dan politik formal Bolsel; tetapi juga secara pribadi untuk Bupati, khususnya dikontekskan dengan kepentingan jangka panjang. Saat ini Bupati Herson Mayulu baru menjabat di periode pertama. Melihat kepemimpinannya (lepas dari kelebihan dan kekurangan yang dicapai), peluang menjabat kedua kali; atau menjadikan record pemerintahannya sebagai modal politik untuk jabatan lebih pretisius (anggota DPR RI misalnya), terbuka sangat lebar.

Dalam memilih pengganti Almarhum Samir Badu, Herson Mayulu mesti memperhitungkan sang calon bukan hanya pasangan menggenapi tahun masa jabatan yang tersisa. Menurut pendapat saya, calon yang diajukan harus diperhitungkan sebagai tandem kepentingan masa jabatan kedua (kalau Herson Mayulu memutuskan mencalonkan diri lagi). Artinya, selain calon Wabup secara profesional harus memiliki kecocokan dan saling mengisi dengan Bupati, dari pendekatan politik minimal mampu memberi kontribusi terhadap reputasi dan keterpilihan Herson Mayulu.

Kebutuhan partner profesional ditakar dengan kecerdasan, kematangan, kebijaksaan, dan kecocokan chemistry (ini bagian yang paling sulit) dengan Bupati. Kecocokan chemistry ini penting agar Bupati merasa nyaman luar-dalam, jauh dari was-was setiap saat Wabup beralih jadi Brutus dan malah jadi pesaing utamanya di Pilbup mendatang.

Akan halnya aspek yang sepenuhnya politik, Herson Mayulu harus mempertimbangkan sang calon bukan hanya bermanfaat untuk dia pribadi dan PDI Perjuangan (sebagai partai pengusung utama), tetapi lebih luas dari itu sebagai ikhtiar membangun aliansi politik besar. Aliansi ini selain mendekatkan ‘’jarak politik’’ antara Bupati dan DPR Bolsel, juga mengakomodir aspirasi mayoritas masyakat.

Kerumitan aspek-aspek yang harus dipertimbangkan oleh Herson Mayulu, dalam pandangan saya, harus dia bijaksanai dengan membuka perspektif seluas-luasnya, termasuk mempertimbangkan menggandeng calon Wabup dari eks pesaing di Pilbup 2010 lalu. Harus diakui, beberapa calon yang bertarung dengan pasangan Herson Mayulu-Almarhum Samir Badu, juga berkualitas jempolan: Baik dari komitmen membangun Bolsel, pengaruh sosial, budaya, dan politik, serta keterterimaan masyarakat.

Kalau Herson Mayulu berani menggandeng salah satu di antara mantan pesaingnya, setidaknya yang dianggap paling netral dan memberi nilai tambah maksimun di jangka panjang, dengan kesepakatan politik tegas, dia akan tidur nyenyak hingga akhir masa jabatan. Pun, bila ingin mencalonkan diri kembali atau menapak tangga berikut karir politiknya, dia tahu sudah mengantongi dukungan yang luas dan memadai.

Politik adalah investasi yang hasilnya bergantung pada seberapa cermat para pelakunya menghitung, menegosiasikan, mengkompromikan, dan memegang teguh kesepakatan. Herson Mayulu kini menggenggam kesempatan emas itu.***